Minggu, 26 Juli 2015

Diplomasi Era Rosul



Diplomasi era nabi Muhammad SAW
            Dalam ranah politik dan diplomasi islam Nabi Muhammad SAW sangatlah berpengaruh. Pada masanya Nabi Muhammad telah melakukan kegiatan diplomasi dengan mengirimkan surat kepada khalifah Negara lain, mengutus duta ataupun bertemu langsung, Beliau diutus sebagai suri tauladan untuk semua umat di dunia ini. Bahkan banyak tokoh dan ilmuwan-ilmuwan lain yang mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang manusia sempurna artinya beliau memiliki perilaku dan kecakapan yang multidemensi di berbagai bidang baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin. Dalam bidang diplomasi tentu saja beliau juga termasuk ke dalam tatanan teratas diplomat terhandal dunia. Beliau adalah sosok yang memiliki sifat-sifat shiddiq, amanah, tabligh, fatonah dan juga beliau mendapatkan gelar al-amin yang berarti gelar untuk seseorang yang dapat dipercaya. Nabi Muhammad juga memiliki kemampuan yang baik dalam bidang komunikasinya.
            Terkait sistem diplomasi secara sederhana sudah dimulai pada fase Makkiyah, yakni pada masa dakwah, dimana Rasulullah SAW mengirim Utsman bin affan ke Penguasa Negeri Habasyah untuk meminta jaminan keselamatan bagi kaum muslimin. Begitu pula ketika pengiriman Mushab bin Umair ra, sebagai diplomat sekaligus juru dakwah pertama bagi warga Yatsrib yang telah berbaiat kepada Rasulullah SAW. Dalam perkembangannya, sistem diplomasi disempurnakan ketika Kaum Muslimin memiliki pemerintahan di Madinah. Kebijakan penting diambil setelah perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW mengutus beberapa sahabat pilihan diantaranya : [1]
1.      Amr bin Umayyah ad-Dhamri ke raja Najasyi bernama Ashamah yang berarti pemberian. Najasyi menerima surat Rasulullah SAW dan meletakkannya diantara kedua matanya lalu turun dari singgasananya dan duduk di atas lantai. Ia pun masuk Islam dihadapan Ja’far bin Abi Thalib dan para sahabatnya. Nabi SAW melaksanakan shalat gaib ketika ia wafat. Diriwayatkan bahwa kuburannya selalu memancarkan cahaya.
2.      Dihyah bin Khalifah diutus ke Kaisar Romawi Heraklius. Ia bertanya tentang Rasulullah SAW dan meyakini kebenaran risalahnya. Ia pun ingin memeluk Islam tapi orang-orang Romawi tidak menyetujuinya lalu ia mengurungkan niatnya karena takut kehilangan kekuasaannya.
3.      Abdullah bin Huzafah as-Sahmi diutus ke Kisra Raja Persia. Setelah menerima surat Nabi saw ia merobek-robek suart itu. Nabi saw lalu berdoa; “Semoga Allah SWT menghancurkan kerajaannya.” Allah SWT mengabulkan doa tersebut dan menghancurkan kerjaannya dan kaumnya.
4.      Hatib bin Abi Baltaah al-Lahkmi diutus ke Muqauqis Raja Alexandria dan Mesir. Ia pun menerima dan berkata baik tetapi tidak masuk Islam. Ia memberi Nabi saw hadiah budak yaitu Maria al-Qibtiyah dan saudarinya Sirin. Nabi saw memberikan Sirin kepada Hassan bin Tsabit dan melahirkan anaknya yang bernama Abdurrahman bin Hassan.
5.      Amr bin al-Ash diutus ke Raja Oman Jaifar dan Abd putera Julandi dari Azd. Keduanya pun beriman dan memeluk Islam serta membiarkan Amr mengambil zakat dan mengatur pemerintahan. Dan Amr menetap disana sampai Rasulullah saw wafat.
6.       Salith bin Amr bin al-Amiri diutus ke Yamamah menemui Haudzah bin Ali al-Hanafi. Ia pun memuliakannya dan menulis kepada Nabi saw: “Alangkah mulia dan indahnya ajaran yang kau serukan. Saya adalah penyeru dan penyair kaumku. Berikanlah aku sebagian kekuasaan“. Rasulullah saw tidak mau mengabulkan keinginannya dan ia pun tidak masuk Islam dan wafat ketika fathu mekah.
7.      Syuja bin Wahb al-Asadi diutus ke Harits bin Abi Syamr al-Ghassani raja Balqa suatu daerah di Syam. Syuja berkata : “Setibanya aku disana ia sedang berada didataran renda Damaskus lalu membaca surat Nabi saw dan membuangnya seraya berkata: Saya akan datang kepadanya. Tapi Kaisar mencegahnya.
8.      Abu Umayyah al-Makhzumi diutus ke al-Harits al-Himyari salah seorang pembesar Yaman.
9.      Al-Ala’ bin al-Hadromi diutus ke Munzir bin Sawa al-Abdi raja Bahrain dan membawa surat Nabi saw yang menyerukan kepada agama Islam, ia pun masuk Islam.
10.  Abu Musa al-Asyari dan Muadz bin Jabal al-Anshari diutus ke Yaman menyeru kepada Islam. Penduduk Yaman dan para penguasanya pun masuk Islam tanpa pertempuran.
Pada fase Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah, beliau menjalin  hubungan dua hala dengan kerajaan-kerajaan seperti Heraklius, Kisra, Muqauqis, Najashi (Negus) di Abisinia, kepada Harith al-Ghassani dan kepada penguasa Kisra di Yaman. Baginda langsung tidak menggunakan kekerasan walaupun ketika itu kekuatan Islam melebihi kekuatan musuhnya. Ini menunjukkan betapa Islam amat menekankan nilai-nilai mulia diplomasi dalam berpolitik. Berikut  merupakan contoh surat nabi kepada raja Heraklius:
https://blogkisahislami.files.wordpress.com/2012/09/surat-muhammad-kepada-hiraklius.jpg?w=300&h=267
Isi dari surat tersebut adalah “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya. Kepada Hiraklius Pembesar Negara Ruum. Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk yang benar. Adapun sesudah itu, sesungguhnya aku mengajak kepadamu kepada seruan Islam, maka dari itu masuk Islam lah, niscaya engkau selamat. Masuk Islamlah, Allah akan memberi pahala kepadamu dua kali. Maka jika engkau berpaling, sesungguhnya kamu akan mendapat dosa-dosa segenap rakyat. Dan, wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu kita tidak menyembah melainkan hanya kepada Allah, dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” [QS. Ali Imran : 64]”. [Al-Bidaayah wan Nihaayah 4:658]
Menurut riwayat surat dakwah Nabi SAW itu dibawa oleh Dihyah Al-Kalbiy dengan disertai pesan beliau, bahwa ia supaya datang lebih dulu ke Bushra menemui Harits bin Abu Syammar Al-Ghassaniy, gubernur negeri Bushra untuk meminta bantuannya menyampaikan surat itu kepada raja Hiraklius, maka Dihyah pun melaksanakan pesan Nabi itu. Kebetulan raja Hiraklius pada waktu itu sedang berada di Iliya (Baitul Maqdis, Palestina), karena sedang menyempurnakan nadzarnya. Sesampai di kota Himsha, Dihyah bertemu dengan raja Hiraklius dengan perantaraan Harits bin Abu Syammar tersebut, lalu surat dakwah dari Nabi SAW itu disampaikan kepadanya.
Hal diplomatis lain pada saat Rosullah memimpin adalah ketika terjadinya perjanjian Hudaibiyyah yang disepakati nabi Muhammad SAW dan Suhail bin Amr . Di dalamnya berisi tentang peperangan antara Mekkah dan Madinah dihentikan selama 10 tahun. Kunjungan di Mekkah ditunda tahun depan, orang Mekkah yang mengikuti Muhammad ke Madinah diperbolehkan jika ingin kembali ke Mekkah. Isi perjanjian ini dinilai para sahabat lebih menguntungkan orang kafir ini ternyata membawa dampak yang baik yakni Khalid bin Walid dan Amru bin Ash menyatakan masuk islam sehingga kekuatan islam menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Sesuai perjanjian ini Rasulullah beserta para sahabat memasuki MEkkah untuk ibadah Umrah.[2]
Diplomasi Era Khulafaur Rasyidin
1.      Abu Bakar
Dalam masa pemerintahan khalifah abu bakar islam lebih luas wilayahnyabhingga ke Parsi dan romawi, yang paling berhasil adalah penaklukan terhadap daerah romawi yang sampai ke kota syam. Sedangkan penaklukan wilayah Parsi hamper tidak berarti, karena kemajuan yang dicapai oleh Khalid bin Walid tidak dapat dipertahankan lagi. Sebab waktu itu Khalid diperintahkan untuk membantu tentara islam yang ada di Syam. Kendati demikian, menhingat masa pemerintahan yang relative singkat ini maka keberhasilan Abu Bakar menjadi hal yang luar biasa. Factor kelemahan di Syam ini dikarenakan oleh lemahnya pertahanan Romawi dan kebencian penduduk terhadap penjajah Romawi itu sendiri.[3]
Letak corak diplomatis pada pemerintahan Abu Bakar adalah pada saat beliau mengahadapi kondisi orang-orang  yang enggan membayar zakat serta orang-orang yang murtad , Abu bakar mengutus Usamah bin Zayd untuk memeranginya hingga seluruh jazirah arab patuh terhadap pemerintahannya. Serta pengutusan khalid bin walid untuk memimpin pasukan dalam memperluas kekuasaan dari Romawi hingga ke Syam.
2.      Umar Bin Khottob
Diplomasi Khalifah Umar Bin Khattab Dalam Memilih Penggantinya
Sebelum beliau wafat beliau menegaskan bahwa khalifah setelahnya nanti harus berbuat baik kepada siapa saja sekalipun itu orang yahudi dan Kristen. Dan sepersepuluh zakat dari suku arab hendaknya di bagikan kepada orang-orang miskin. Kepemimpinan Umar Bin Khattab bergaya demokrasi. Dalam kehalifahan Umar bin Khattab demokrasi ini disinggung oleh Amien Rais yang memberikan pengantar bagi bukunya Abul A’la Al Maududi yang berjudul  khalifah dan  modernitas beliau menyebutnya  sistem teo-demokratis. Meskipun istilah teo-demokratis ini tidak ada dan yang ada hanya istilah Teokrasi. Terdapat suatu makna bahwa beliau memberikan istilah baru yang kemudian diterima oleh  kubu yang oposan terhadap kelompoknya Abul A’la Al-Maududi (Islam Fundamentalis).
Sistem demokratis ini terlihat pada pengambilan keputusan beliau yang mengedepankan pendapat rakyat. Contoh dalam pengangkatan pejabat-pejabatnya beliau tidak melirik pihak dari keluarganya. Beliau lebih cenderung memilih rakyat yang cerdas dan pintar dalam bidangnya  untuk menggeluti hal tersebut. Terutama dalam hal pengganti beliau, Umar bin Khattab tidak langsung menunjuk penggantinya secara langsung karena beliau  ingin merefleksikan kepemimpinan gaya demokratis kepada dunia Islam. Sehingga sistem demokrasi Umar bin Khattab ini banyak ditiru oleh negara-negara barat.
Umar bin Khattab menggunakan gaya demokratis ini dalam pemilihan penggantinya terbukti bahwa Beliau tidak pernah melemparkan kepemimpinannya kepada seseorang. Namun beliau menggunakan nominasi dalam hal tersebut. Sebagaimana Umar mengatakan bahwa kalau dirinya tidak menunjuk seseorang untuk jadi Khalifah, maka itu dirinya ingin bersikap seperti Nabi. Dan kalaupun dirinya menunjuk seseorang maka itu karena dirinya mengikuti jejak Abu Bakar. Khalifah Umar bin Khattab mengusulkan 6 nominasi calon khalifah tidak sembarangan beliau telah melakukan konspirasi dan memfilter kandidat-kandidat dengan empat sifat yakni: berilmu, adil, mampu, tidak cacat indera dan fisik yang menyebabkan akal pikirannya terganggu.
3.      Usman Bin Affan
Ustman Bin affan menjadi duta Kepada Pihak Quraisy
Pada saat itu, rasulullah ingin mengutus seseorang duta untuk menegaskan sikap dan tujuan beliau pada perjalanan kali ini kepada kaum Quraisy. Beliau lantas memanggil Umar bin Khathtab dan hendak menjadikannya sebagai duta. Namun Umar bin Khathtab keberatan dan berkata “wahai Rasulullah, tak seorangpun sanak keluargaku dari bani Adiy bin Ka’b di Makkah yang marah jika aku disiksa. Lebih baik, utuslah Ustman bin Affan karena sanak keluarganya ada disana dan dia akan menyampaikan apa yang engkau kehendaki.
Rasulullah akhirnya memanggil Ustman bin Affan dan menjadikannya sebagai duta untuk bernegosiasi dengan kaum Quraisy. Beliau bersabda, yang artinya “sampaikan kepada mereka bahwa kita tidak ingin berperang, tapi kita datang hendak melaksanakan umrah. Serulah mereka kepada Islam. Disamping itu rasulullah juga menyuruh untuk menyambangi beberapa laki-laki dan wanita muslim disana, menyampaikan kabar gembira kepada mereka tentang datangnya kemenangan, dan bahwa Allah pasti akan memenangkan agamanya di Makkah, sehingga setiap orang disana tidak perlu lagi untuk menyembunyikan keimanannya”.
Pengukuhan perjanjian-perjanjian dan klausul-klausulnya Pihak quraisy menyadari posisinya yang cukup rawan. Dengan segera mereka mengutus Suhail bin Amr untuk mengadakan perundingan. Mereka menegaskan kepadanya diantara klausal perjanjian itu menyebutkan bahwa Muhammad harus pulang ke madinah pada tahun ini, agar bangsa arab tidak membicarakan orang-orang quraisy bahwa beliau berhasil masuk kesana dengan paksa. Isi perjanjian:
·         Genjatan senjata diantara kedua belah pihak selama 10 tahun, sehingga semua orang merasa aman dan sebagian tidak boleh memerangi sebagian yang lain.
·         Barang siapa ingin berabung pada salah satu kelompok, maka dia boleh melakukannya. Kabilah manapun yang bergabung dengan salah satu pihak, maka kabilah itu menjadi bagian dari pihak tersebut. Sehingga penyerangan kepada kabilah merupakan penyerangan kepada kelompoknya
·         Siapa orang quraisy mendatangi kelompok Muhammad tanpa izin walinya maka dia harus dikembalikan kepada pihak quraisy, sedang siapapun dari pihak Muhammad mendatangi quraisy, maka dia tidak boleh dikembalikan kepadanya.
4.      Ali Bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib adalah khalifah keempat setelah Usman bin Afan, karena Usman terbunuh. Dalam pemerintahannya diplomasi terletak pada saat khalifah Ali mengirim Usman Bin Shihab ke Basrah menggantikan Amr bin As. Umarah bin Shihab untuk kufah tetapi langkah diplomatis ini tidak berhasil karena mendapat ancaman dari thalhah bin khuwaylid. [4] namun puncak hal pada masa kepemimpinan Ali adalah pada saat melakukan perjanjian Hakam dengan Mu’awiyah. Dimana mu’awiyah merupakan rival politik Ali bin Abi thalib yang berambisi ingin menjadi khalifah serta menempatkan putranya sebagai khalifah pula. Hasil dari perjanjian hakam antara ali dan mu’awiyah adalah rakyat bebas memilih siapa khalifah yang cocok bagi mereka. Namun terjadi kecurangan dalam perjanjian ini dimana pihak mu’awiyah yakni Amr bin as melakukan pengukuhan terhadap Mu’awiyah sebagai khalifah pengganti Usman. Hasil ini semakin buruk karena orang-orang khawarij memakzulkan Ali sebagai khalifah. Dan beliau akhirnya terbunuh oleh orang khawarij.



Diplomasi Era Dinasti Umayyah
Kelompok Bani Umayyah sejak semula menginginkan kursi khalifah dapat dipegang oleh mereka tetapi karena sebagian besar dari mereka dan tokoh-tokoh memeluk agama islam. Setelah pembebasan kotah Mekkah maka berhalanglah mereka untuk meraih kursih khalifah dengan cepat kemungkinan untuk meraih khalifah itu besar sekali. Ketika Ustman Banyak mengangkat kaum kerabatnya dari dari Bani Umayyah sebagai pejabat dan orang kepercayaannya. Sedangkan Muawiyyah bin Abi Sofyan sejak umar bin Khattab diangkat sebagai Gubernur seluruh wilayah Syam selama 20 Tahun sejak masa Usman inilah merupakan peluang yang besar bagi kelompok Bani Umayyah untuk meraih kursi Khalifah pada masa-masa berikutnya.
Ketika Ali Menjadi Khalifah, beliau memecat pejabat-pejabat daerah yang diangkat oleh Ustman dan mengambil kembali tanah-tanah yang diberikan Ustman kepada kaum kerabatnya. Dengan demikian kebijaksanaan Ali tersebut menimbulkan rasa tidak puas Kelompok Bani Umayyah yang merasa dirugikan. Oleh sebab itu, oleh sebab itu kelompok ini berusaha mengambil ali kursi khalifah dari Ali, cara ini tidak berhasil akhirnya menempuh jalan Tahkim sampai terpecah kekuatan Ali , sementara kekuatan mereka dibawa kepemimpinan Muawiyah bin abi Sofyan Sampai Ali terbunuh.
Setelah Khalifah ‘Ali bin Abi Tholib wafat, maka gubernur Syam waktu menjadi penguasa Islam yang kuat. Masa kekuasaannya, merupakan cikal bakal kedaulatan Bani Umayah. Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb adalah pendiri Bani Umayah yang sekaligus sebagai khalifah pertama. Ia memindahkan ibu kota kekuasaan Islam dari Kufah ke Damascus. Upaya strategis yang ditempuh Mu’awiyah dalam rangka untuk dapat merebut kekuasaan dan sekaligus mendirikan Dinasti Umayah adalah:
1. Pembentukan Kekuatan Militer di Syiria
Selama kurang lebih 20 tahun menjadi gubernur di Syiria, ia melihat Syiria sebagai daerah yang subur dan kuat ekonominya, ia menguasai seluruh sumber ekonomi yang ada diwilayah tersebut membuat Mu’awiyah mampu mengkonsolidasikan seluruh potensi dan kekuatan untuk dapat memperkuat posisinya dalam memegang kekuasaan, baik ketika ia menjadi gubernur maupun ketika ia mulai mendirikan dinasti bani umayyah. Langkah strategis yang ditempu ole muawiyah selama menjadi gubernur Syiriah antara lain merekrut tentara bayaran baik dari kalangan masyarakat pribumi Syiriah maupun masyarakat imigran arab yang mayoritas dari keluarganya sendiri, disamping itu ia juga merangkul lawan-lawan politiknya yang mempunyai kcakapan selanjutnya ia menjadikan kedudukan yang penting kepada tokoh-tokoh yang berpengaruh jika ia kelak menjadi khalipah, misalnya ia berhasil merangkul sahabat Amr bin Ash mantang gubernur Mesir pada masa pemerintahan Ustman bin Affan.
2. Politisasi Tragedi Pembunuhan Ustman
Khalifah ‘Ali harus mengusut sebab-sebab kematian ‘Ustman dan sekaligus menghukumnya. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, maka dianggap bersekongkol dengan ‘Ali, sementara itu Khalifah ‘Ali tergolong pihak yang harus dihukum. Karenanya, ia harus dicopot dari jabatannya sebagai khalifah. Politisasi tragedi pembunuhan ‘Ustman ini adalah suatu hal, yang menurut Mu’awiyah, sangat efektif untuk menumbuhkan simpatik masyarakat Syiria dalam mendukung perjuangannya.
3. Tipu Muslihat dalam Arbiterase (Tahkim)
Ajakan perdamaian yang dilakukan muawiyah merupakan bagian dari langkah strategis untuk memecah bela kekuatan Ali, yang akhirnya peristiwa itu melahirkan kelompok-kelompok kecil yang menentang kebijakan Ali dan menjadi lawan Ali. Keputusan Ali menerimah ajakan perundingan tersebut mengecewakan sebagian pengikutnya karena mereka merasa sudah mendekati kemengana dalam peperangan. Ali senantiasa mengembalikan kelompok kecil yang menetangnya tapi tidak berhasil. Dalam perundingan tersebut muawiyah diwakili oleh diplomat  Amr Bin Ash sedang pihak ali diwakili oleh sahabat Abu Musa al-asyari. Hasil perundingan tersebut menetapkan bahwa kedudukan khalifah harus dilepaskan dan selanjutnya harus dipilih khalifah baru. Secara de jure, perundingan yang terjadi meningkatkan kedudukan Mu’awiyah setingkat dengan kedudukan ‘Ali sebagai khalifah, dengan demikian jelaslah bahwa perundingan ini hanya semata-mata tipu muslihat Muawiyah dengan mengeco diplomasi dengan pihak Ali. Mu’awiyah meperoleh kursi kekhalifahan secara sah, setelah Hasan bin ‘Ali berdamai dengannya pada tahun 41 H. Umat Islam membaiat Hasan, ketika ayahnya ‘Ali meninggal. Namun Hasan menyadari kelemahannya, sehingga ia melakukan perdamaian dan menyerahkan kepemimpinan umat kepada Mu’awiyah dengan beberapa persyaratan. Tahun perdamaian itu dikenal dengan istilah ‘amul jamaah’ (tahun persatuan). Adapun persyaratan yang diajukan oleh Hasan kepada Mu’awiyah adalah:
·         Agar Mu’awiyah tidak menaruh dendam kepada penduduk Irak.
·         Menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan mereka.
·         Agar pajak negeri Ahwaz diperuntukkan kepadanya dan diberikan setiap tahunnya.
·         Agar Mu’awiyah membayar kepada saudaranya, Husain, 2 juta dirham.
·         Pemberian kepada Bani Hasyim haruslah lebih banyak daripada pemberian kepada Bani ‘Abd al-Syams.
Dengan dasar perdamaian ini, Hasan kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan kekhalifahannya kepada Mu’awiyah, yang kemudian diumumkannya bahwa ia taat dan patuh kepada Mu’awiyah. Sejak saat itu, Mu’awiyah dibaiat oleh umat Islam, termasuk Hasan dan Husain yang bertempat tinggal di Kufah. Keberhasilan Mu’awiyah mendirikan Dinasti Umayah, tidak hanya karena akibat diplomasi siffin dan meninggalnya Ali, tetapi sebagai landasan politik di masa depan, memang telah dimotori oleh beberapa hal, yaitu :
  1. Dukungan yang sangat kuat dari rakyat Syiria serta dari Bani Umayah sendiri;
  2. Sebagai seorang administrator, Mu’awiyah sangat bijaksana dalam menempatkan para pembantunya dalam jabatan-jabatan penting, seperti ‘Amr bin As pemimpin militer, Mugirah bin Syu’bah menjadi gubernur di Kufah, dan Yazid bin Abihi menjadi gubernur di Basrah.
  3. Karena Mu’awiyah memiliki kemampuan sebagai negarawan sejati.
Diplomasi Era Bani Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Bani Abbas melewati rentang waktu yang sangat panjang, yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun ) setelah meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan anak-anaknya.
Dalam hal strategi, ada pula  yang digunakan untuk menggulingkan Bani Umayyah ada dua tahap :
·         Gerakan secara rahasia
Propoganda Abbasiyah dilaksakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia, akan tetapi Imam Ibrahim pemimpin abbasiyah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti umayyah dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia telah mengetahui bahwa ia akan di eksekusi dan memerintahkan untuk pindah ke kuffah.
·         Tahap terang-terangan dan terbuka secara umum
Tahap ini dimulai setelah terungkap surat rahasia Ibrahim bin Muhammad yang ditujukan kepada Abu Musa Al-Khurasani Agar membunuh setiap orang yang berbahasa Arab di Khurasan. Setelah khalifah Marwan bin Muhammad mengetahi isi surat rahasia tersebut ia menangkap Ibrahim bin Muhammad dan membunuhnya. Setelah itu pimpinan gerakan oposisi dipegang oleh Abul Abbas Abdullah bin Muhammad as-saffah, saudara Ibrahim bin Muhammad. Abul Abbas sangat beruntung, karena pada masanya pemerintahan Marwan bin Muhammad telah mulai lemah dan sebaliknya gerakan oposisi semakin mendapat dukungan dari rakyat dan bertambah luas pengaruhnya. Keadaan ini tambah mendorong semangat Abul Abbas untuk menggulingkan khalifah Marwan bin Muhammad dari jabatannya. Untuk maksud tersebut Abul Abbas mengutus pamannya Abdullah bin Ali untuk menumpas pasukan Marwan bin Muhammad. Pertempuran terjadi antara pasukan yang dipimpin oleh khalifah Marwan bin Muhammad dengan pasukan Abdullah bin Ali di tepi sungai Al-Zab Al-Shagirdi, Iran. Marwan bin Muhammad terdesak dan melarikan diri ke Mosul, kemudian ke palestina, Yordania dan terakhir di Mesir. Abdullah bin Ali terus mengejar pasukan Marwan bin Muhammad sampai ke Mesir dan akhirnya terjadi pertempuran disana. Marwan bin Muhammad pun akhirnya tewas karena pasukannya sudah sangat lemah yaitu pada tanggal 27 Zulhijjah 132 H/750 M. Pada tahun 132 H/ 750 M Abul Abbas Abdullah bin Muhammad diangkat dan di bai'ah menjadi khalifah.
·         Pemerintahan Bani Abbasiyah
Pemerintahan bani Abbasiyah adalah keturunan al-Abbas, paman Rasulullah Saw, dimana pendirinya adalah Abdullah bin Muhammad Ibn Ali Ibn al-Abbas. Luas daerah kekuasaan khilafah bani Abbasiyah tidak sama dengan luas kekuasaan khilafah bani Umayyah. Kekuasaan Bani Abbasiyah tidak diakui di Spanyol, seluruh Afrika kecuali Mesir, tetapi hal tersebut hanya berlangsung sebentar. Pada masa Abbasiyah mulai masuk pengaruh Persia, terutama paa saat kota pemerintahan dipindah ke Baghdad.  Pengaruh Persia tersebut dapat melunakkan kekasaran dari kehidupan Arabia yang primitif.
Walaupun yang mendirikan pemerintahan Bani Abbasiyah yakni Abul Abbas, namun yang sebenarnya memimpin yakni Abu Ja’far al-Mansur. Abu al-Abbas as-Shaffah laih di Hamimah menjadi khilafah hanya 4 tahun 9 bulan karena meninggal yang sebelumnya mendapat gelar al-mansur dari Abu Ja’far. Dalam pemerintahan Abu Ja’far membuat banyak perubahan dalam hal sistem pemerintahan. Seperti membentuk Wazir yang membawahi keala-kepala departemen. Untuk hal itu, beliau memilih Khalid Ibn Barmak, yang berasal dari Balkh(bactral) di Persia untuk meneguhkan dan memantapkan khalifah-khalifah bani Abbasiyah dalam hal menyusun peraturan-peraturan dan undang-undang.
Untuk menjaga stabilitas dan keamanan, maka beliau mendirikan ibu kota yang baru, yakni Baghdad, sebagai ganti di Damaskus. Yang dianggap tempat paling cocok bagi Bani Abbasiyah untuk menjalankan pemerintahan, karena kota Baghdad terletak di tepi sungai Trigis, yang memunyai nama resmi Madinat al-Salam (kota perdamaian). Al-Mansur meninggal saat menunaikan ibadah haji dan menunjuk anaknya, al-Mahdi sebagao pengganti dan menjadi khalifah selama kurang lebih 20 tahun. 
·         Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Filsafat pada Bani Abbasiyah
Kemajuan dinasti Abbasiyah dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari strategisnya letak ibukota pemerintahan Abbasiyah pada saat itu. Dengan kekuasaan islam yang bertambah besar dan luas yang membentang ke penjuru dunia, menjadikan pada masa Bani Abbasiyah perkembangan sains dan filsafat dapat berkembang karena adanya kultural Persia yang dalam pengembangan keilmuan Yunani juga mendapat perluasan pusat-pusat ilmiah yamg lain seperti di Salonika, Ctesipon dan Nishapur. Perkembangan ilmu pengetahuan juga di dukung dengan para khalifah yang mencintai ilmu pengetahuan, seperti Harun al-Rasyid dan al-Makmun. Al-makmun mendirikan pusat kerajaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nama “ Darul Hikmah”, dimana temat itu dijadikan sebagai usat kerajinan, pusat perpustakaan dan kantor penerjemah ilmu-ilmu non arab ke dalam bahasa arab. Pada masa Bani Abbasiyah, dapat mempertahankan pusat-pusat ilmu pengetahuan yang sudah ada sebelumnya dan juga membangun pusat-pusat ilmu pengetahuan yang baru yang ada di Hijaz, Irak, Mesir, Syam, Isfahan, Bukhara, Thabristan, Ghaznah, Halab, Istana Ibnu Thulun di Mesir, dan juga Andalusia.
Dalam bidang Humaniora juga sudah ada pada masa Abbasiyah dengan mencerminkan dalam bidang Ilmu Bahasa dan Sastra. Karena bahasa arab semakin dewasa memerlukan suatu ilmu bahasa yang menyeluruh. Dalam bidang filsafat, yang dalam mengembangkan filsafat adalah Ikhwan al-Shafa yang berarti saudara-saudara (yang mementingkan) kesucian, kelompok ahli filsafat yang muncul di Basrah pada tahun 970an yang tidak hanya bergerak di bidang filsafat namun juga dalam bidang politik keagamaan terutama berkaitan dengan Syi’ah yang menerbitkan selembaran berisi filsafat, matematika, musik, astronomi, geografi, dan etik. Dalam bidang kedokteran, khalifah Abbasiyah, al-Mansur mengundang dokter kepala dari Jundishapur dan mengundang dokter-dokter ternama dari Syria, Mesir, Bizantium dan India. Dan juga menerjemahkan buku-buku Yunani, Iran, India, dll ke dalam bahasa arab, dimana buku-buku yangmenjadi standar yakni karya Hippocrates, Galen, Paul, Alexander Thandes, dan lain-lain. Namun, tidak mengambil secara keseluruhan tapi mengadakan perubahan yang disesuaikan dalam ajaran islam. Dalam bidang matematika, orang islam mempunyai andil yang cukup besar dalam peradaban manusia. Seperti Ibnu Haitam dan al-Khawarizimi yang membuat teori matematika, diantaranya teori aljabar, cara menghitung akar, kuadrat dan desimal. Ibnu Haitam menemukan ilmu untuk mengukur sudut atau yang disebut trigonometri. Adapula ilmu fisikis (Botani) tentang tumbuh-tumbuhan, ilmu fisika, ilmu geografi dan ilmu sejarah yang masih belum dibukukan secara sistematis.
Dalam bidang sains dan teknologi, buku terjemahan dari Yunani menjadi rangsangan dalam berkembangnya ilmu sains dan teknologi.dengan berdirinya universitas-universitas islam di Iraq dan Baghdad yang menjadi awal penemuan-penemuan yang luar biasa.
·         Dalam Bidang Politik dan Diplomasi Bani Abbasiyah 
Dalam bidang politik, bani Abbasiyah juga melakukan revolusi dalam sejarah islam, karena kekuasaan tidak hanya diduduki oleh bangsa Arab saja namun juga bangsa Persia dan Turki di dalamnya. Bahkan lebih condong ke bangsa Persia.
Kebijakan politik bani Abbasiyah, menerapkan politik bumi hanguskan kepada bani Umayyah dan meminggirkan kaum alawiyah. Dalam hal stabilisasi politik, banyak pertumpahan darah yang erjadi. Adanya penumpasan pemberontakan budak negro di Musil. Tindakan-tindakan tersebut mengkristal dan menjadikan kekuasaan yang dipegang khalifah merupakan penjelmahan dari kekuasaan Tuhan yang dimaksudkan untuk meredam gejolak pemberontakan-peemberontakan yang bisa membahayakan stabilitas khalifah.
Adapula Eropa yang memanfaatkan kekuatan militer Baghdad dalam mengancam Bizantium, juga bani Abbasiyah yang mngancam Andalusia dengan serangan yang muncul dari Eropa. 
Pada masa khalifah al mahdi al-Rasyid, pemerintah Baghdad berkali-kali melakukan serangan balasan terhadapBizantium yang sering melakukan provokasi di wilayah perbatasan. Kemenangan yang diperoleh tidak diupayakan untuk melakukan penaklukan dan pengasaan wilayah di Bizantium, namun saat-saat seperti itu mereka bersedia melakukan perdamaian dengan penguasa konstantinopel yang dipegang oleh Irene, istri Leu IV.
Kekhalifahan yang dilakukan bani Abbasiyah dilakukan dengan sistem monarki, hal tersebut dilakukan untuk menjaga keutuhan kekuasaan agar tidak jatuh kepada kaum Alawiyah . pada saat pengangkatan khalifah pertama dilakukan atas dasar ba’iat namun untuk khalifah kedua dan seterusnya dilakukan dengan cara keputusan keluarga, dimana hal ini dirancang supaya pemimpin pertama menjadi pemimpin puncak.

Dalam administrasi pemerintahan bani Abbasiyah, struktur birokrasi sebagai kekuasaan tertinggi yakni Khalifah, dalam urusan hak-hak sipil ada Wakil Khalifah yang disebut Wazir,juga ada Perdana Menteri sebagai alat kontrol lembaga negara.
Diplomasi yang dilakukan oleh bani Abbasiyah yakni dengan cara perluasan wilayah kekuasaan islam, juga dengan cara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pembangunan pusat-pusat ilmu pengetahuan dan teknologi serta universitas-universitas islam yang menghasilkan banyak penemuan-penemuan yang luar biasa. Namun juga dengan cara perdamaian atas pemberontakan yang dapat diatasi dengan perdamaian tersebut.




[1] Prof. Dr. M Zuhri. Kiprah Politik Muhammad Rosulullah. (Yogya: LSFI 2004) 36
[2] Ibid, 56
[3] Ibid,118.
[4] Prof. DR. KH Sjehjul hadi, Islam dalam lintasan sejarah perpolitikan. (Surabaya:Aulia 2004) 132

2 komentar:

  1. Halo,
     Saya adalah Mr.ALEXANDER ROBERT, dari ALEXANDER ROBERT LOAN FIRM, ini adalah pinjaman Asli yang akan mengubah hidup Anda menjadi bisnis yang lebih baik, perusahaan pinjaman pinjaman, Diberikan dan diberi lisensi untuk menawarkan pinjaman kepada individu, perusahaan swasta dan orang-orang yang membutuhkan bantuan keuangan. rendahnya tingkat manfaatnya sebanyak 2%.

    Saya adalah Tuan ALEXANDER ROBERT, akan memberikan penghormatan saya kepada semua pemohon yang sah. Anda tidak akan kecewa dengan saya dalam urusan bisnis ini karena perusahaan akan memastikan pinjaman Anda terserah Anda, itu juga tidak akan berakhir di sana, kami memiliki tim ekspat yang mengerti hukum investasi, mereka akan membantu Anda, memberikan tip yang akan membantu Anda mengelola investasi Anda sehingga Anda menginvestasikan pinjaman Anda, jadi Anda tidak lagi bangkrut dalam hidup Anda dan tawaran menakjubkan ini hadir dengan pinjaman Anda, Hubungi kami hari ini melalui email alexanderrobertloan@gmail.com

    Layanan kami meliputi:

    * Pinjaman pribadi
    * Amankan Pinjaman
    * Pinjaman tidak dipagari
    * Hasil pinjaman
    * Pelatihan pinjaman
    Pinjaman pinjaman
    Pembayaran pinjaman
    * Pinjaman siswa
    * Pinjaman Komersial
    * Pinjaman Otomatis
    * Resolusi Pinjaman
    Pinjaman Pembangunan
    Pinjaman pinjaman
    * Pinjaman Bisnis
    * Pinjaman pendidikan
    * Penunjukan salah

    Silahkan isi formulir permohonan pinjaman di bawah ini dan kembalikan kepada kami untuk melayani kami dengan lebih baik melalui e-mail:
    alexanderrobertloan@gmail.com

    DATA PEMOHON

    1) Nama Lengkap:
    2) Negara:
    3) Alamat:
    4) Negara:
    5) Jenis Kelamin:
    6) Status Perkawinan:
    7) Pekerjaan:
    8) Nomor Telepon:
    9) Posisi saat bekerja:
    10) Pendapatan bulanan:
    11) Jumlah Pinjaman yang Dibutuhkan:
    12) Durasi Pinjaman:
    13) Tujuan Pinjaman:
    14) Agama:
    15) Sudahkah anda melamar sebelum:
    16) Tanggal lahir:
    Terima kasih,
    Mr ALEXANDER ROBERT (alexanderrobertloan@gmail.com)

    BalasHapus
  2. PENGUJI : Ibu Ria Maulidina
    NEGARA: Indonesia
    KOTA:Semarang
    PINJAMAN PINJAMAN : Rp 500.000.000
    BANK BCA
    Nomor REKENING: 1750825253                                                                    EMAIL: maulidinaria@gmail.com

    PERUSAHAAN PINJAMAN: PERUSAHAAN PINJAMAN KARINA ELENA ROLAND
    EMAIL: karinarolandloancompany@gmail.com
    NO WHATSAPP: +15857083478
    NAMA FACEBOOK: karina elena roland
    INSTAGRAM: karina roland
    TWITTER: karina roland

    Nama saya MRS RIA MAULIDINA, saya berada dalam kekacauan keuangan saya tidak punya pilihan selain mencari agen pinjaman online terkemuka yang menyewakan pinjaman kepada yang membutuhkan tetapi yang saya dapatkan hanyalah sekelompok penipu karena saya percaya pemberi pinjaman kedua yang saya komunikasikan karena keputusasaan saya untuk mendapatkan uang secepatnya dan itu membuat saya mengirimkan kepadanya satu-satunya uang yang saya miliki baik di bumi maupun di surga, mereka terus meminta lebih banyak dan ini membuat saya marah karena saya harus menutup email itu karena saya menyadari hal itu dan saya tidak repot-repot mencari bantuan online lagi, karena saya tidak mempercayainya lagi. Saya menjadi sangat terbebaskan karena kurangnya makanan yang baik dan 2 anak saya yang berusia 5 dan 8 tahun juga tidak tampan selama periode ini karena tidak ada perawatan yang layak akibat keuangan, minggu lalu saya melihat seorang teman lama keluarga suami saya dan saya menceritakan semua yang telah saya lalui dan dia mengatakan satu-satunya cara dia dapat membantu adalah dengan mengarahkan saya ke agen pinjaman yang baik yang juga membantunya dan dia juga menjelaskan kepadanya tentang bagaimana dia mengalami kemerosotan finansial dan bagaimana dia mendapat dorongan dari pinjaman ini. agensi KARINA ELENA ROLAND LOAN COMPANY (karinarolandloancompany@gmail.com) yang memberinya pinjaman dengan harga terjangkau sebesar 2% dan dia selanjutnya meyakinkan saya bahwa mereka sah dan bukan penipu dan dia juga memberi tahu saya apa yang perlu dilakukan { PERUSAHAAN PROSEDUR ADMINISTRATIF} dan dia juga memberi saya alamat email yang memiliki reputasi baik ini dan saya menghubungi mereka sesuai petunjuk dan atas karunia TUHAN YANG MAHA ESA saya juga dikabulkan dana pinjaman saya sebesar Rp 500.000.000 dalam waktu 2 jam 24 jam setelah permohonan saya disetujui tanpa ada stres atau masalah dan inilah mengapa saya datang ke sini untuk memberikan kesaksian saya dan memberi tahu orang-orang bahwa masih ada agen pinjaman online yang nyata dan bereputasi baik. hubungi mereka melalui (karinarolandloancompany@gmail.com) atau melalui +15857083478

    BalasHapus