Diplomasi era nabi Muhammad SAW
Dalam
ranah politik dan diplomasi islam Nabi Muhammad SAW sangatlah berpengaruh. Pada
masanya Nabi Muhammad telah melakukan kegiatan diplomasi dengan mengirimkan
surat kepada khalifah Negara lain, mengutus duta ataupun bertemu langsung, Beliau
diutus sebagai suri tauladan untuk semua umat di dunia ini. Bahkan banyak tokoh
dan ilmuwan-ilmuwan lain yang mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang
manusia sempurna artinya beliau memiliki perilaku dan kecakapan yang
multidemensi di berbagai bidang baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin.
Dalam bidang diplomasi tentu saja beliau juga termasuk ke dalam tatanan teratas
diplomat terhandal dunia. Beliau adalah sosok yang memiliki sifat-sifat
shiddiq, amanah, tabligh, fatonah dan juga beliau mendapatkan gelar al-amin
yang berarti gelar untuk seseorang yang dapat dipercaya. Nabi Muhammad juga
memiliki kemampuan yang baik dalam bidang komunikasinya.
Terkait
sistem diplomasi secara sederhana sudah dimulai pada fase Makkiyah, yakni pada
masa dakwah, dimana Rasulullah SAW mengirim Utsman bin affan ke Penguasa Negeri
Habasyah untuk meminta jaminan keselamatan bagi kaum muslimin. Begitu pula
ketika pengiriman Mushab bin Umair ra, sebagai diplomat sekaligus juru dakwah
pertama bagi warga Yatsrib yang telah berbaiat kepada Rasulullah
SAW. Dalam perkembangannya, sistem diplomasi disempurnakan ketika Kaum
Muslimin memiliki pemerintahan di Madinah. Kebijakan penting diambil setelah
perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW mengutus beberapa sahabat pilihan
diantaranya : [1]
1. Amr bin
Umayyah ad-Dhamri ke raja Najasyi bernama Ashamah yang berarti pemberian. Najasyi
menerima surat Rasulullah SAW dan meletakkannya diantara kedua matanya lalu
turun dari singgasananya dan duduk di atas lantai. Ia pun masuk Islam dihadapan
Ja’far bin Abi Thalib dan para sahabatnya. Nabi SAW melaksanakan shalat gaib
ketika ia wafat. Diriwayatkan bahwa kuburannya selalu memancarkan cahaya.
2. Dihyah
bin Khalifah diutus ke Kaisar Romawi Heraklius. Ia bertanya tentang Rasulullah
SAW dan meyakini kebenaran risalahnya. Ia pun ingin memeluk Islam tapi
orang-orang Romawi tidak menyetujuinya lalu ia mengurungkan niatnya karena
takut kehilangan kekuasaannya.
3. Abdullah
bin Huzafah as-Sahmi diutus ke Kisra Raja Persia. Setelah menerima surat Nabi
saw ia merobek-robek suart itu. Nabi saw lalu berdoa; “Semoga Allah SWT
menghancurkan kerajaannya.” Allah SWT mengabulkan doa tersebut dan
menghancurkan kerjaannya dan kaumnya.
4. Hatib
bin Abi Baltaah al-Lahkmi diutus ke Muqauqis Raja Alexandria dan Mesir. Ia pun
menerima dan berkata baik tetapi tidak masuk Islam. Ia memberi Nabi saw hadiah
budak yaitu Maria al-Qibtiyah dan saudarinya Sirin. Nabi saw memberikan Sirin
kepada Hassan bin Tsabit dan melahirkan anaknya yang bernama Abdurrahman bin
Hassan.
5. Amr bin
al-Ash diutus ke Raja Oman Jaifar dan Abd putera Julandi dari Azd. Keduanya pun
beriman dan memeluk Islam serta membiarkan Amr mengambil zakat dan mengatur
pemerintahan. Dan Amr menetap disana sampai Rasulullah saw wafat.
6. Salith bin Amr bin al-Amiri diutus ke Yamamah
menemui Haudzah bin Ali al-Hanafi. Ia pun memuliakannya dan menulis kepada Nabi
saw: “Alangkah mulia dan indahnya ajaran yang kau serukan. Saya adalah penyeru
dan penyair kaumku. Berikanlah aku sebagian kekuasaan“. Rasulullah saw tidak
mau mengabulkan keinginannya dan ia pun tidak masuk Islam dan wafat ketika
fathu mekah.
7. Syuja
bin Wahb al-Asadi diutus ke Harits bin Abi Syamr al-Ghassani raja Balqa suatu
daerah di Syam. Syuja berkata : “Setibanya aku disana ia sedang berada
didataran renda Damaskus lalu membaca surat Nabi saw dan membuangnya seraya
berkata: Saya akan datang kepadanya. Tapi Kaisar mencegahnya.
8. Abu
Umayyah al-Makhzumi diutus ke al-Harits al-Himyari salah seorang pembesar
Yaman.
9. Al-Ala’
bin al-Hadromi diutus ke Munzir bin Sawa al-Abdi raja Bahrain dan membawa surat
Nabi saw yang menyerukan kepada agama Islam, ia pun masuk Islam.
10. Abu Musa
al-Asyari dan Muadz bin Jabal al-Anshari diutus ke Yaman menyeru kepada Islam.
Penduduk Yaman dan para penguasanya pun masuk Islam tanpa pertempuran.
Pada
fase Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah, beliau menjalin hubungan dua hala dengan kerajaan-kerajaan
seperti Heraklius, Kisra, Muqauqis, Najashi (Negus) di Abisinia, kepada Harith
al-Ghassani dan kepada penguasa Kisra di Yaman. Baginda langsung tidak
menggunakan kekerasan walaupun ketika itu kekuatan Islam melebihi kekuatan
musuhnya. Ini menunjukkan betapa Islam amat menekankan nilai-nilai mulia
diplomasi dalam berpolitik. Berikut
merupakan contoh surat nabi kepada raja Heraklius:

Isi dari surat
tersebut adalah “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya. Kepada Hiraklius Pembesar Negara
Ruum. Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk yang benar. Adapun
sesudah itu, sesungguhnya aku mengajak kepadamu kepada seruan Islam, maka dari
itu masuk Islam lah, niscaya engkau selamat. Masuk Islamlah, Allah akan memberi
pahala kepadamu dua kali. Maka jika engkau berpaling, sesungguhnya kamu akan
mendapat dosa-dosa segenap rakyat. Dan, wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu
kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu kita tidak menyembah melainkan
hanya kepada Allah, dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan
sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain
Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa sesungguhnya
kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” [QS. Ali Imran :
64]”. [Al-Bidaayah wan Nihaayah 4:658]
Menurut riwayat
surat dakwah Nabi SAW itu dibawa oleh Dihyah Al-Kalbiy dengan disertai pesan
beliau, bahwa ia supaya datang lebih dulu ke Bushra menemui Harits bin Abu
Syammar Al-Ghassaniy, gubernur negeri Bushra untuk meminta bantuannya
menyampaikan surat itu kepada raja Hiraklius, maka Dihyah pun melaksanakan
pesan Nabi itu. Kebetulan raja Hiraklius pada waktu itu sedang berada di Iliya
(Baitul Maqdis, Palestina), karena sedang menyempurnakan nadzarnya. Sesampai di
kota Himsha, Dihyah bertemu dengan raja Hiraklius dengan perantaraan Harits bin
Abu Syammar tersebut, lalu surat dakwah dari Nabi SAW itu disampaikan
kepadanya.
Hal diplomatis
lain pada saat Rosullah memimpin adalah ketika terjadinya perjanjian
Hudaibiyyah yang disepakati nabi Muhammad SAW dan Suhail bin Amr . Di dalamnya
berisi tentang peperangan antara Mekkah dan Madinah dihentikan selama 10 tahun.
Kunjungan di Mekkah ditunda tahun depan, orang Mekkah yang mengikuti Muhammad
ke Madinah diperbolehkan jika ingin kembali ke Mekkah. Isi perjanjian ini
dinilai para sahabat lebih menguntungkan orang kafir ini ternyata membawa
dampak yang baik yakni Khalid bin Walid dan Amru bin Ash menyatakan masuk islam
sehingga kekuatan islam menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Sesuai perjanjian
ini Rasulullah beserta para sahabat memasuki MEkkah untuk ibadah Umrah.[2]
Diplomasi Era Khulafaur
Rasyidin
1. Abu Bakar
Dalam masa
pemerintahan khalifah abu bakar islam lebih luas wilayahnyabhingga ke Parsi dan
romawi, yang paling berhasil adalah penaklukan terhadap daerah romawi yang
sampai ke kota syam. Sedangkan penaklukan wilayah Parsi hamper tidak berarti,
karena kemajuan yang dicapai oleh Khalid bin Walid tidak dapat dipertahankan
lagi. Sebab waktu itu Khalid diperintahkan untuk membantu tentara islam yang
ada di Syam. Kendati demikian, menhingat masa pemerintahan yang relative
singkat ini maka keberhasilan Abu Bakar menjadi hal yang luar biasa. Factor
kelemahan di Syam ini dikarenakan oleh lemahnya pertahanan Romawi dan kebencian
penduduk terhadap penjajah Romawi itu sendiri.[3]
Letak corak
diplomatis pada pemerintahan Abu Bakar adalah pada saat beliau mengahadapi
kondisi orang-orang yang enggan membayar
zakat serta orang-orang yang murtad , Abu bakar mengutus Usamah bin Zayd untuk
memeranginya hingga seluruh jazirah arab patuh terhadap pemerintahannya. Serta
pengutusan khalid bin walid untuk memimpin pasukan dalam memperluas kekuasaan
dari Romawi hingga ke Syam.
2. Umar Bin Khottob
Diplomasi Khalifah Umar Bin Khattab Dalam Memilih
Penggantinya
Sebelum beliau
wafat beliau menegaskan bahwa khalifah setelahnya nanti harus berbuat baik
kepada siapa saja sekalipun itu orang yahudi dan Kristen. Dan sepersepuluh
zakat dari suku arab hendaknya di bagikan kepada orang-orang miskin.
Kepemimpinan Umar Bin Khattab bergaya demokrasi. Dalam kehalifahan Umar bin
Khattab demokrasi ini disinggung oleh Amien Rais yang memberikan pengantar bagi
bukunya Abul A’la Al Maududi yang berjudul
khalifah dan modernitas beliau
menyebutnya sistem teo-demokratis.
Meskipun istilah teo-demokratis ini tidak ada dan yang ada hanya istilah
Teokrasi. Terdapat suatu makna bahwa beliau memberikan istilah baru yang
kemudian diterima oleh kubu yang oposan
terhadap kelompoknya Abul A’la Al-Maududi (Islam Fundamentalis).
Sistem demokratis
ini terlihat pada pengambilan keputusan beliau yang mengedepankan pendapat
rakyat. Contoh dalam pengangkatan pejabat-pejabatnya beliau tidak melirik pihak
dari keluarganya. Beliau lebih cenderung memilih rakyat yang cerdas dan pintar
dalam bidangnya untuk menggeluti hal
tersebut. Terutama dalam hal pengganti beliau, Umar bin Khattab tidak langsung
menunjuk penggantinya secara langsung karena beliau ingin merefleksikan kepemimpinan gaya
demokratis kepada dunia Islam. Sehingga sistem demokrasi Umar bin Khattab ini
banyak ditiru oleh negara-negara barat.
Umar bin
Khattab menggunakan gaya demokratis ini dalam pemilihan penggantinya terbukti
bahwa Beliau tidak pernah melemparkan kepemimpinannya kepada seseorang. Namun
beliau menggunakan nominasi dalam hal tersebut. Sebagaimana Umar mengatakan
bahwa kalau dirinya tidak menunjuk seseorang untuk jadi Khalifah, maka itu
dirinya ingin bersikap seperti Nabi. Dan kalaupun dirinya menunjuk seseorang
maka itu karena dirinya mengikuti jejak Abu Bakar. Khalifah Umar bin Khattab
mengusulkan 6 nominasi calon khalifah tidak sembarangan beliau telah melakukan
konspirasi dan memfilter kandidat-kandidat dengan empat sifat yakni: berilmu,
adil, mampu, tidak cacat indera dan fisik yang menyebabkan akal pikirannya
terganggu.
3. Usman Bin Affan
Ustman Bin affan menjadi duta
Kepada Pihak Quraisy
Pada saat itu,
rasulullah ingin mengutus seseorang duta untuk menegaskan sikap dan tujuan
beliau pada perjalanan kali ini kepada kaum Quraisy. Beliau lantas memanggil
Umar bin Khathtab dan hendak menjadikannya sebagai duta. Namun Umar bin
Khathtab keberatan dan berkata “wahai Rasulullah, tak seorangpun sanak
keluargaku dari bani Adiy bin Ka’b di Makkah yang marah jika aku disiksa. Lebih
baik, utuslah Ustman bin Affan karena sanak keluarganya ada disana dan dia akan
menyampaikan apa yang engkau kehendaki.
Rasulullah
akhirnya memanggil Ustman bin Affan dan menjadikannya sebagai duta untuk
bernegosiasi dengan kaum Quraisy. Beliau bersabda, yang artinya “sampaikan
kepada mereka bahwa kita tidak ingin berperang, tapi kita datang hendak
melaksanakan umrah. Serulah mereka kepada Islam. Disamping itu rasulullah juga
menyuruh untuk menyambangi beberapa laki-laki dan wanita muslim disana,
menyampaikan kabar gembira kepada mereka tentang datangnya kemenangan, dan
bahwa Allah pasti akan memenangkan agamanya di Makkah, sehingga setiap orang
disana tidak perlu lagi untuk menyembunyikan keimanannya”.
Pengukuhan
perjanjian-perjanjian dan klausul-klausulnya Pihak quraisy menyadari posisinya
yang cukup rawan. Dengan segera mereka mengutus Suhail bin Amr untuk mengadakan
perundingan. Mereka menegaskan kepadanya diantara klausal perjanjian itu
menyebutkan bahwa Muhammad harus pulang ke madinah pada tahun ini, agar bangsa
arab tidak membicarakan orang-orang quraisy bahwa beliau berhasil masuk kesana
dengan paksa. Isi perjanjian:
·
Genjatan senjata diantara
kedua belah pihak selama 10 tahun, sehingga semua orang merasa aman dan
sebagian tidak boleh memerangi sebagian yang lain.
·
Barang siapa ingin berabung
pada salah satu kelompok, maka dia boleh melakukannya. Kabilah manapun yang
bergabung dengan salah satu pihak, maka kabilah itu menjadi bagian dari pihak
tersebut. Sehingga penyerangan kepada kabilah merupakan penyerangan kepada
kelompoknya
·
Siapa orang quraisy
mendatangi kelompok Muhammad tanpa izin walinya maka dia harus dikembalikan
kepada pihak quraisy, sedang siapapun dari pihak Muhammad mendatangi quraisy,
maka dia tidak boleh dikembalikan kepadanya.
4. Ali Bin Abi Thalib
Ali bin Abi
Thalib adalah khalifah keempat setelah Usman bin Afan, karena Usman terbunuh.
Dalam pemerintahannya diplomasi terletak pada saat khalifah Ali mengirim Usman
Bin Shihab ke Basrah menggantikan Amr bin As. Umarah bin Shihab untuk kufah
tetapi langkah diplomatis ini tidak berhasil karena mendapat ancaman dari
thalhah bin khuwaylid. [4]
namun puncak hal pada masa kepemimpinan Ali adalah pada saat melakukan
perjanjian Hakam dengan Mu’awiyah. Dimana mu’awiyah merupakan rival politik Ali
bin Abi thalib yang berambisi ingin menjadi khalifah serta menempatkan putranya
sebagai khalifah pula. Hasil dari perjanjian hakam antara ali dan mu’awiyah
adalah rakyat bebas memilih siapa khalifah yang cocok bagi mereka. Namun
terjadi kecurangan dalam perjanjian ini dimana pihak mu’awiyah yakni Amr bin as
melakukan pengukuhan terhadap Mu’awiyah sebagai khalifah pengganti Usman. Hasil
ini semakin buruk karena orang-orang khawarij memakzulkan Ali sebagai khalifah.
Dan beliau akhirnya terbunuh oleh orang khawarij.
Diplomasi Era
Dinasti Umayyah
Kelompok Bani
Umayyah sejak semula menginginkan kursi khalifah dapat dipegang oleh mereka
tetapi karena sebagian besar dari mereka dan tokoh-tokoh memeluk agama islam.
Setelah pembebasan kotah Mekkah maka berhalanglah mereka untuk meraih kursih
khalifah dengan cepat kemungkinan untuk meraih khalifah itu besar sekali.
Ketika Ustman Banyak mengangkat kaum kerabatnya dari dari Bani Umayyah sebagai
pejabat dan orang kepercayaannya. Sedangkan Muawiyyah bin Abi Sofyan sejak umar
bin Khattab diangkat sebagai Gubernur seluruh wilayah Syam selama 20 Tahun
sejak masa Usman inilah merupakan peluang yang besar bagi kelompok Bani Umayyah
untuk meraih kursi Khalifah pada masa-masa berikutnya.
Ketika Ali
Menjadi Khalifah, beliau memecat pejabat-pejabat daerah yang diangkat oleh
Ustman dan mengambil kembali tanah-tanah yang diberikan Ustman kepada kaum
kerabatnya. Dengan
demikian kebijaksanaan Ali tersebut menimbulkan rasa tidak puas Kelompok Bani
Umayyah yang merasa dirugikan. Oleh sebab itu, oleh sebab itu kelompok ini
berusaha mengambil ali kursi khalifah dari Ali, cara ini tidak berhasil
akhirnya menempuh jalan Tahkim sampai terpecah kekuatan Ali , sementara
kekuatan mereka dibawa kepemimpinan Muawiyah bin abi Sofyan Sampai Ali
terbunuh.
Setelah Khalifah ‘Ali bin Abi Tholib wafat, maka gubernur
Syam waktu menjadi penguasa Islam yang kuat. Masa kekuasaannya, merupakan cikal
bakal kedaulatan Bani Umayah. Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb adalah pendiri
Bani Umayah yang sekaligus sebagai khalifah pertama. Ia memindahkan ibu kota
kekuasaan Islam dari Kufah ke Damascus. Upaya strategis yang ditempuh Mu’awiyah
dalam rangka untuk dapat merebut kekuasaan dan sekaligus mendirikan Dinasti
Umayah adalah:
1.
Pembentukan Kekuatan Militer di Syiria
Selama
kurang lebih 20 tahun menjadi gubernur di Syiria, ia melihat Syiria sebagai
daerah yang subur dan kuat ekonominya, ia menguasai seluruh sumber ekonomi yang
ada diwilayah tersebut membuat Mu’awiyah mampu mengkonsolidasikan seluruh
potensi dan kekuatan untuk dapat memperkuat posisinya dalam memegang kekuasaan,
baik ketika ia menjadi gubernur maupun ketika ia mulai mendirikan dinasti bani
umayyah. Langkah strategis yang ditempu ole muawiyah selama menjadi gubernur
Syiriah antara lain merekrut tentara bayaran baik dari kalangan masyarakat
pribumi Syiriah maupun masyarakat imigran arab yang mayoritas dari keluarganya
sendiri, disamping itu ia juga merangkul lawan-lawan politiknya yang mempunyai
kcakapan selanjutnya ia menjadikan kedudukan yang penting kepada tokoh-tokoh
yang berpengaruh jika ia kelak menjadi khalipah, misalnya ia berhasil merangkul
sahabat Amr bin Ash mantang gubernur Mesir pada masa pemerintahan Ustman bin
Affan.
2.
Politisasi Tragedi Pembunuhan Ustman
Khalifah
‘Ali harus mengusut sebab-sebab kematian ‘Ustman dan sekaligus menghukumnya.
Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, maka dianggap bersekongkol dengan ‘Ali,
sementara itu Khalifah ‘Ali tergolong pihak yang harus dihukum. Karenanya, ia
harus dicopot dari jabatannya sebagai khalifah. Politisasi tragedi pembunuhan
‘Ustman ini adalah suatu hal, yang menurut Mu’awiyah, sangat efektif untuk
menumbuhkan simpatik masyarakat Syiria dalam mendukung perjuangannya.
3.
Tipu Muslihat dalam Arbiterase (Tahkim)
Ajakan
perdamaian yang dilakukan muawiyah merupakan bagian dari langkah strategis
untuk memecah bela kekuatan Ali, yang akhirnya peristiwa itu melahirkan
kelompok-kelompok kecil yang menentang kebijakan Ali dan menjadi lawan Ali.
Keputusan Ali menerimah ajakan perundingan tersebut mengecewakan sebagian
pengikutnya karena mereka merasa sudah mendekati kemengana dalam peperangan.
Ali senantiasa mengembalikan kelompok kecil yang menetangnya tapi tidak
berhasil. Dalam perundingan tersebut muawiyah diwakili oleh diplomat Amr Bin Ash sedang pihak ali diwakili oleh
sahabat Abu Musa al-asyari. Hasil perundingan tersebut menetapkan bahwa
kedudukan khalifah harus dilepaskan dan selanjutnya harus dipilih khalifah
baru. Secara de jure, perundingan yang terjadi meningkatkan kedudukan Mu’awiyah
setingkat dengan kedudukan ‘Ali sebagai khalifah, dengan demikian jelaslah
bahwa perundingan ini hanya semata-mata tipu muslihat Muawiyah dengan mengeco
diplomasi dengan pihak Ali. Mu’awiyah meperoleh kursi kekhalifahan secara sah,
setelah Hasan bin ‘Ali berdamai dengannya pada tahun 41 H. Umat Islam membaiat
Hasan, ketika ayahnya ‘Ali meninggal. Namun Hasan menyadari kelemahannya,
sehingga ia melakukan perdamaian dan menyerahkan kepemimpinan umat kepada
Mu’awiyah dengan beberapa persyaratan. Tahun perdamaian itu dikenal dengan
istilah ‘amul jamaah’ (tahun persatuan). Adapun persyaratan yang diajukan oleh
Hasan kepada Mu’awiyah adalah:
·
Agar Mu’awiyah tidak menaruh dendam kepada penduduk Irak.
·
Menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan mereka.
·
Agar pajak negeri Ahwaz diperuntukkan kepadanya dan
diberikan setiap tahunnya.
·
Agar Mu’awiyah membayar kepada saudaranya, Husain, 2 juta
dirham.
·
Pemberian kepada Bani Hasyim haruslah lebih banyak daripada
pemberian kepada Bani ‘Abd al-Syams.
Dengan
dasar perdamaian ini, Hasan kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan
kekhalifahannya kepada Mu’awiyah, yang kemudian diumumkannya bahwa ia taat dan
patuh kepada Mu’awiyah. Sejak saat itu, Mu’awiyah dibaiat oleh umat Islam,
termasuk Hasan dan Husain yang bertempat tinggal di Kufah. Keberhasilan
Mu’awiyah mendirikan Dinasti Umayah, tidak hanya karena akibat diplomasi siffin
dan meninggalnya Ali, tetapi sebagai landasan politik di masa depan, memang
telah dimotori oleh beberapa hal, yaitu :
- Dukungan
yang sangat kuat dari rakyat Syiria serta dari Bani Umayah sendiri;
- Sebagai
seorang administrator, Mu’awiyah sangat bijaksana dalam menempatkan para
pembantunya dalam jabatan-jabatan penting, seperti ‘Amr bin As pemimpin
militer, Mugirah bin Syu’bah menjadi gubernur di Kufah, dan Yazid bin
Abihi menjadi gubernur di Basrah.
- Karena
Mu’awiyah memiliki kemampuan sebagai negarawan sejati.
Diplomasi Era Bani Abbasiyah
Dinasti
Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan
sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Bani Abbas melewati rentang waktu
yang sangat panjang, yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M.
Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah
dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun ) setelah meninggalnya Rasulullah
dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan
anak-anaknya.
Dalam
hal strategi, ada pula yang digunakan
untuk menggulingkan Bani Umayyah ada dua tahap :
·
Gerakan secara rahasia
Propoganda
Abbasiyah dilaksakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia,
akan tetapi Imam Ibrahim pemimpin abbasiyah yang berkeinginan mendirikan
kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah terakhir,
Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti umayyah
dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada
adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia telah mengetahui
bahwa ia akan di eksekusi dan memerintahkan untuk pindah ke kuffah.
·
Tahap terang-terangan dan terbuka secara umum
Tahap
ini dimulai setelah terungkap surat rahasia Ibrahim bin Muhammad yang ditujukan
kepada Abu Musa Al-Khurasani Agar membunuh setiap orang yang berbahasa Arab di
Khurasan. Setelah khalifah Marwan bin Muhammad mengetahi isi surat rahasia
tersebut ia menangkap Ibrahim bin Muhammad dan membunuhnya. Setelah itu
pimpinan gerakan oposisi dipegang oleh Abul Abbas Abdullah bin Muhammad
as-saffah, saudara Ibrahim bin Muhammad. Abul Abbas sangat beruntung, karena
pada masanya pemerintahan Marwan bin Muhammad telah mulai lemah dan sebaliknya
gerakan oposisi semakin mendapat dukungan dari rakyat dan bertambah luas
pengaruhnya. Keadaan ini tambah mendorong semangat Abul Abbas untuk
menggulingkan khalifah Marwan bin Muhammad dari jabatannya. Untuk maksud
tersebut Abul Abbas mengutus pamannya Abdullah bin Ali untuk menumpas pasukan
Marwan bin Muhammad. Pertempuran terjadi antara pasukan yang dipimpin oleh
khalifah Marwan bin Muhammad dengan pasukan Abdullah bin Ali di tepi sungai
Al-Zab Al-Shagirdi, Iran. Marwan bin Muhammad terdesak dan melarikan diri ke
Mosul, kemudian ke palestina, Yordania dan terakhir di Mesir. Abdullah bin Ali
terus mengejar pasukan Marwan bin Muhammad sampai ke Mesir dan akhirnya terjadi
pertempuran disana. Marwan bin Muhammad pun akhirnya tewas karena pasukannya
sudah sangat lemah yaitu pada tanggal 27 Zulhijjah 132 H/750 M. Pada tahun 132
H/ 750 M Abul Abbas Abdullah bin Muhammad diangkat dan di bai'ah menjadi
khalifah.
·
Pemerintahan Bani Abbasiyah
Pemerintahan
bani Abbasiyah adalah keturunan al-Abbas, paman Rasulullah Saw, dimana
pendirinya adalah Abdullah bin Muhammad Ibn Ali Ibn al-Abbas. Luas daerah
kekuasaan khilafah bani Abbasiyah tidak sama dengan luas kekuasaan khilafah
bani Umayyah. Kekuasaan Bani Abbasiyah tidak diakui di Spanyol, seluruh Afrika
kecuali Mesir, tetapi hal tersebut hanya berlangsung sebentar. Pada masa
Abbasiyah mulai masuk pengaruh Persia, terutama paa saat kota pemerintahan
dipindah ke Baghdad. Pengaruh Persia
tersebut dapat melunakkan kekasaran dari kehidupan Arabia yang primitif.
Walaupun
yang mendirikan pemerintahan Bani Abbasiyah yakni Abul Abbas, namun yang
sebenarnya memimpin yakni Abu Ja’far al-Mansur. Abu al-Abbas as-Shaffah laih di
Hamimah menjadi khilafah hanya 4 tahun 9 bulan karena meninggal yang sebelumnya
mendapat gelar al-mansur dari Abu Ja’far. Dalam pemerintahan Abu Ja’far membuat
banyak perubahan dalam hal sistem pemerintahan. Seperti membentuk Wazir yang
membawahi keala-kepala departemen. Untuk hal itu, beliau memilih Khalid Ibn
Barmak, yang berasal dari Balkh(bactral) di Persia untuk meneguhkan dan
memantapkan khalifah-khalifah bani Abbasiyah dalam hal menyusun
peraturan-peraturan dan undang-undang.
Untuk
menjaga stabilitas dan keamanan, maka beliau mendirikan ibu kota yang baru,
yakni Baghdad, sebagai ganti di Damaskus. Yang dianggap tempat paling cocok
bagi Bani Abbasiyah untuk menjalankan pemerintahan, karena kota Baghdad
terletak di tepi sungai Trigis, yang memunyai nama resmi Madinat al-Salam (kota
perdamaian). Al-Mansur meninggal saat menunaikan ibadah haji dan menunjuk
anaknya, al-Mahdi sebagao pengganti dan menjadi khalifah selama kurang lebih 20
tahun.
·
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Filsafat pada
Bani Abbasiyah
Kemajuan
dinasti Abbasiyah dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari
strategisnya letak ibukota pemerintahan Abbasiyah pada saat itu. Dengan
kekuasaan islam yang bertambah besar dan luas yang membentang ke penjuru dunia,
menjadikan pada masa Bani Abbasiyah perkembangan sains dan filsafat dapat
berkembang karena adanya kultural Persia yang dalam pengembangan keilmuan
Yunani juga mendapat perluasan pusat-pusat ilmiah yamg lain seperti di
Salonika, Ctesipon dan Nishapur. Perkembangan ilmu pengetahuan juga di dukung
dengan para khalifah yang mencintai ilmu pengetahuan, seperti Harun al-Rasyid
dan al-Makmun. Al-makmun mendirikan pusat kerajaan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan nama “ Darul Hikmah”, dimana temat itu dijadikan sebagai usat
kerajinan, pusat perpustakaan dan kantor penerjemah ilmu-ilmu non arab ke dalam
bahasa arab. Pada masa Bani Abbasiyah, dapat mempertahankan pusat-pusat ilmu
pengetahuan yang sudah ada sebelumnya dan juga membangun pusat-pusat ilmu
pengetahuan yang baru yang ada di Hijaz, Irak, Mesir, Syam, Isfahan, Bukhara,
Thabristan, Ghaznah, Halab, Istana Ibnu Thulun di Mesir, dan juga Andalusia.
Dalam
bidang Humaniora juga sudah ada pada masa Abbasiyah dengan mencerminkan dalam
bidang Ilmu Bahasa dan Sastra. Karena bahasa arab semakin dewasa memerlukan
suatu ilmu bahasa yang menyeluruh. Dalam bidang filsafat, yang dalam
mengembangkan filsafat adalah Ikhwan al-Shafa yang berarti saudara-saudara
(yang mementingkan) kesucian, kelompok ahli filsafat yang muncul di Basrah pada
tahun 970an yang tidak hanya bergerak di bidang filsafat namun juga dalam
bidang politik keagamaan terutama berkaitan dengan Syi’ah yang menerbitkan
selembaran berisi filsafat, matematika, musik, astronomi, geografi, dan etik. Dalam
bidang kedokteran, khalifah Abbasiyah, al-Mansur mengundang dokter kepala dari
Jundishapur dan mengundang dokter-dokter ternama dari Syria, Mesir, Bizantium
dan India. Dan juga menerjemahkan buku-buku Yunani, Iran, India, dll ke dalam
bahasa arab, dimana buku-buku yangmenjadi standar yakni karya Hippocrates,
Galen, Paul, Alexander Thandes, dan lain-lain. Namun, tidak mengambil secara
keseluruhan tapi mengadakan perubahan yang disesuaikan dalam ajaran islam.
Dalam bidang matematika, orang islam mempunyai andil yang cukup besar dalam peradaban
manusia. Seperti Ibnu Haitam dan al-Khawarizimi yang membuat teori matematika,
diantaranya teori aljabar, cara menghitung akar, kuadrat dan desimal. Ibnu
Haitam menemukan ilmu untuk mengukur sudut atau yang disebut trigonometri.
Adapula ilmu fisikis (Botani) tentang tumbuh-tumbuhan, ilmu fisika, ilmu
geografi dan ilmu sejarah yang masih belum dibukukan secara sistematis.
Dalam
bidang sains dan teknologi, buku terjemahan dari Yunani menjadi rangsangan
dalam berkembangnya ilmu sains dan teknologi.dengan berdirinya
universitas-universitas islam di Iraq dan Baghdad yang menjadi awal
penemuan-penemuan yang luar biasa.
·
Dalam Bidang Politik dan Diplomasi Bani
Abbasiyah
Dalam
bidang politik, bani Abbasiyah juga melakukan revolusi dalam sejarah islam,
karena kekuasaan tidak hanya diduduki oleh bangsa Arab saja namun juga bangsa
Persia dan Turki di dalamnya. Bahkan lebih condong ke bangsa Persia.
Kebijakan
politik bani Abbasiyah, menerapkan politik bumi hanguskan kepada bani Umayyah
dan meminggirkan kaum alawiyah. Dalam hal stabilisasi politik, banyak
pertumpahan darah yang erjadi. Adanya penumpasan pemberontakan budak negro di
Musil. Tindakan-tindakan tersebut mengkristal dan menjadikan kekuasaan yang
dipegang khalifah merupakan penjelmahan dari kekuasaan Tuhan yang dimaksudkan
untuk meredam gejolak pemberontakan-peemberontakan yang bisa membahayakan
stabilitas khalifah.
Adapula
Eropa yang memanfaatkan kekuatan militer Baghdad dalam mengancam Bizantium,
juga bani Abbasiyah yang mngancam Andalusia dengan serangan yang muncul dari
Eropa.
Pada
masa khalifah al mahdi al-Rasyid, pemerintah Baghdad berkali-kali melakukan
serangan balasan terhadapBizantium yang sering melakukan provokasi di wilayah
perbatasan. Kemenangan yang diperoleh tidak diupayakan untuk melakukan
penaklukan dan pengasaan wilayah di Bizantium, namun saat-saat seperti itu
mereka bersedia melakukan perdamaian dengan penguasa konstantinopel yang
dipegang oleh Irene, istri Leu IV.
Kekhalifahan
yang dilakukan bani Abbasiyah dilakukan dengan sistem monarki, hal tersebut
dilakukan untuk menjaga keutuhan kekuasaan agar tidak jatuh kepada kaum
Alawiyah . pada saat pengangkatan khalifah pertama dilakukan atas dasar ba’iat
namun untuk khalifah kedua dan seterusnya dilakukan dengan cara keputusan
keluarga, dimana hal ini dirancang supaya pemimpin pertama menjadi pemimpin
puncak.
Dalam
administrasi pemerintahan bani Abbasiyah, struktur birokrasi sebagai kekuasaan
tertinggi yakni Khalifah, dalam urusan hak-hak sipil ada Wakil Khalifah yang
disebut Wazir,juga ada Perdana Menteri sebagai alat kontrol lembaga negara.
Diplomasi
yang dilakukan oleh bani Abbasiyah yakni dengan cara perluasan wilayah
kekuasaan islam, juga dengan cara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang berdampak pembangunan pusat-pusat ilmu pengetahuan dan teknologi serta
universitas-universitas islam yang menghasilkan banyak penemuan-penemuan yang
luar biasa. Namun juga dengan cara perdamaian atas pemberontakan yang dapat
diatasi dengan perdamaian tersebut.
Halo,
BalasHapusSaya adalah Mr.ALEXANDER ROBERT, dari ALEXANDER ROBERT LOAN FIRM, ini adalah pinjaman Asli yang akan mengubah hidup Anda menjadi bisnis yang lebih baik, perusahaan pinjaman pinjaman, Diberikan dan diberi lisensi untuk menawarkan pinjaman kepada individu, perusahaan swasta dan orang-orang yang membutuhkan bantuan keuangan. rendahnya tingkat manfaatnya sebanyak 2%.
Saya adalah Tuan ALEXANDER ROBERT, akan memberikan penghormatan saya kepada semua pemohon yang sah. Anda tidak akan kecewa dengan saya dalam urusan bisnis ini karena perusahaan akan memastikan pinjaman Anda terserah Anda, itu juga tidak akan berakhir di sana, kami memiliki tim ekspat yang mengerti hukum investasi, mereka akan membantu Anda, memberikan tip yang akan membantu Anda mengelola investasi Anda sehingga Anda menginvestasikan pinjaman Anda, jadi Anda tidak lagi bangkrut dalam hidup Anda dan tawaran menakjubkan ini hadir dengan pinjaman Anda, Hubungi kami hari ini melalui email alexanderrobertloan@gmail.com
Layanan kami meliputi:
* Pinjaman pribadi
* Amankan Pinjaman
* Pinjaman tidak dipagari
* Hasil pinjaman
* Pelatihan pinjaman
Pinjaman pinjaman
Pembayaran pinjaman
* Pinjaman siswa
* Pinjaman Komersial
* Pinjaman Otomatis
* Resolusi Pinjaman
Pinjaman Pembangunan
Pinjaman pinjaman
* Pinjaman Bisnis
* Pinjaman pendidikan
* Penunjukan salah
Silahkan isi formulir permohonan pinjaman di bawah ini dan kembalikan kepada kami untuk melayani kami dengan lebih baik melalui e-mail:
alexanderrobertloan@gmail.com
DATA PEMOHON
1) Nama Lengkap:
2) Negara:
3) Alamat:
4) Negara:
5) Jenis Kelamin:
6) Status Perkawinan:
7) Pekerjaan:
8) Nomor Telepon:
9) Posisi saat bekerja:
10) Pendapatan bulanan:
11) Jumlah Pinjaman yang Dibutuhkan:
12) Durasi Pinjaman:
13) Tujuan Pinjaman:
14) Agama:
15) Sudahkah anda melamar sebelum:
16) Tanggal lahir:
Terima kasih,
Mr ALEXANDER ROBERT (alexanderrobertloan@gmail.com)
PENGUJI : Ibu Ria Maulidina
BalasHapusNEGARA: Indonesia
KOTA:Semarang
PINJAMAN PINJAMAN : Rp 500.000.000
BANK BCA
Nomor REKENING: 1750825253 EMAIL: maulidinaria@gmail.com
PERUSAHAAN PINJAMAN: PERUSAHAAN PINJAMAN KARINA ELENA ROLAND
EMAIL: karinarolandloancompany@gmail.com
NO WHATSAPP: +15857083478
NAMA FACEBOOK: karina elena roland
INSTAGRAM: karina roland
TWITTER: karina roland
Nama saya MRS RIA MAULIDINA, saya berada dalam kekacauan keuangan saya tidak punya pilihan selain mencari agen pinjaman online terkemuka yang menyewakan pinjaman kepada yang membutuhkan tetapi yang saya dapatkan hanyalah sekelompok penipu karena saya percaya pemberi pinjaman kedua yang saya komunikasikan karena keputusasaan saya untuk mendapatkan uang secepatnya dan itu membuat saya mengirimkan kepadanya satu-satunya uang yang saya miliki baik di bumi maupun di surga, mereka terus meminta lebih banyak dan ini membuat saya marah karena saya harus menutup email itu karena saya menyadari hal itu dan saya tidak repot-repot mencari bantuan online lagi, karena saya tidak mempercayainya lagi. Saya menjadi sangat terbebaskan karena kurangnya makanan yang baik dan 2 anak saya yang berusia 5 dan 8 tahun juga tidak tampan selama periode ini karena tidak ada perawatan yang layak akibat keuangan, minggu lalu saya melihat seorang teman lama keluarga suami saya dan saya menceritakan semua yang telah saya lalui dan dia mengatakan satu-satunya cara dia dapat membantu adalah dengan mengarahkan saya ke agen pinjaman yang baik yang juga membantunya dan dia juga menjelaskan kepadanya tentang bagaimana dia mengalami kemerosotan finansial dan bagaimana dia mendapat dorongan dari pinjaman ini. agensi KARINA ELENA ROLAND LOAN COMPANY (karinarolandloancompany@gmail.com) yang memberinya pinjaman dengan harga terjangkau sebesar 2% dan dia selanjutnya meyakinkan saya bahwa mereka sah dan bukan penipu dan dia juga memberi tahu saya apa yang perlu dilakukan { PERUSAHAAN PROSEDUR ADMINISTRATIF} dan dia juga memberi saya alamat email yang memiliki reputasi baik ini dan saya menghubungi mereka sesuai petunjuk dan atas karunia TUHAN YANG MAHA ESA saya juga dikabulkan dana pinjaman saya sebesar Rp 500.000.000 dalam waktu 2 jam 24 jam setelah permohonan saya disetujui tanpa ada stres atau masalah dan inilah mengapa saya datang ke sini untuk memberikan kesaksian saya dan memberi tahu orang-orang bahwa masih ada agen pinjaman online yang nyata dan bereputasi baik. hubungi mereka melalui (karinarolandloancompany@gmail.com) atau melalui +15857083478