BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Negara-negara di dunia
dulu menganut beberapa paham atau pemikiran, terutama pada negara-negara
dikawasan benua Eropa. Karena dikawasan ini dulunya lahir banyak sekali
filosof-filosof besar dan terkenal dengan hasil pemikiran mereka, salah satunya
yakni Karl Marx.
Secara historis
Marxisme adalah filsafat perjuangan kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme
dan membawa sosialisme ke bumi manusia. Sejak ajaran ini dikemukakan oleh Karl
Marx dan Friedrich Engels beberapa puluh tahun yang lalu dan terus berkembang,
pemikiran ini telah mendominasi perjuangan buruh secara langsung maupun tidak langsung.
Marxisme merupakan
suatu pemikiran yang berusaha menumbangkan pola negara kapitalisme karena didalam negara kapitalisme terdapat dua kelas yang
memiliki kedudukan jauh berbeda, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Dimana
kelas borjuis berkuasa atas kelas proletar atau kelas proletar bekerja atas
kelas borjuis. Antara kelas dan negara memiliki keterkaitan yang sangat erat dimana
negara itu digerakkan oleh kelas-kelas yang berkuasa dalam hal ini adalah kelas
Borjuis.
Sedangkan
dalam pandangan Karl Marx negara seharusnya bukan tempat suatu kelas untuk
berkuasa dan bertindak sewenang-wenang terhadap kelas lainnya.
B.
Rumusan Masalah
A. Bagaimana asumsi-asumsi Teori Negara Marxis?
B. Bagaimana keterkaitan Negara dan Kelas?
C. Bagaimana model ideal dan real Negara Marxis?
D. Bagaimana modifikasi teori Negara Marxis
(Neo-Marxis)?
E. Apakah yang dimaksud dengan Dependency,
Independency dan Interdependency?
C.
Tujuan
A. Mengetahui bagaimana asumsi-asumsi Teori Negara
Marxis.
B. Mengetahui bagaimana keterkaitan Negara dan Kelas.
C. Mengetahui bagaimana model ideal dan real Negara
Marxis.
D. Mengetahui bagaimana modifikasi teori Negara Marxis
(Neo-Marxis).
E. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Dependency,
Independency dan Interdependency.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Asumsi-asumsi Teori Negara Marxis
Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan
Karl marx. Marxisme adalah buah karya intelektual, lantaran doktrinnya
digunakan secara politik dan menghadirkan fenomena intelektual yang penting
sampai saat ini. Nilai intelektual marxisme pada umumnya tidak hanya bersifat
sejarah namun sampai saat ini masih memiliki relevansi intelektual. Karya Marx
mengandung penyataan-pernyataan kaya makna tentang unsur dan struktur
masyarakat yang perlu menjadi perhatian, terlepas dari masalah politik atau
ideologi.[1] Konsep awal yang paling mendasar menurut karl marx
adalah segala perubahan yang terjadi dalam sosial masyarakat disebabkan oleh
struktur ekonomi pada sosial masyarakat tersebut. Sebuah ekonomi yang unggul
dalam masyarakat akan membentuk dan mewarnai seluruh sosial masyarakat.
Marxisme adalah sebuah pandangan perjuangan bagi kelas buruh
untuk menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme. Di sini dijelaskan
tentang perjuangan para buruh untuk bangkit dari keterpurukan yang selama ini
mereka alami. Dengan adanya filsafat yang dikemukakan oleh karl marx tentang
marxisme banyak membantu para buruh untuk bangkit dari penindasan. Pemikiran
karl marx ini ditujukan kepada rakyat buruh (khususnya) dan juga kepada kaum
intelektual (umumnya). Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham
kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan
mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena
dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil pekerjaan
mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus
hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul
karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang
didominasi orang-orang kaya.
Selain dari pada membahas
tentang keterpurukan para buruh, akan tetapi juga mengacu pada sistem sosial,
politik, sosialisme demokrasi dan ekonomi. Selain itu Menurut David
Marsh&Gery Stoker dalam karyanya Teori dan Metodologi Ilmu Politik. Mereka
membagi marxisme menjadi dua periode yaitu periode marxisme klasik dan marxisme
kontemporer. Ada empat “Isme” terkait yang biasanya di hubungkan dengan
Marxisme klasik:ekonomisme, determinisme, materialisme, dan
strukturalisme.
Bayangan Mark mengenai
masa depan, dan nilai-nilai dasarnya sendiri, memasukkan unsur-unsur anarkisme
dan komunisme..Akibat-akibat politik yang paling nampak dari Marxisme sangat
tepat apabila dinamakan sosialisme otoriter, meskipun beberapa pihak akan
mendesak bahwa otoriterisme adalah lebih fasis dari pada sosialis. Perhatian
Marx itu sendiri di pusatkan pada ciri-ciri ekonomi dan akibat-akibat politik
dari liberalisme klasik. Dan implikasi logis dalam determinisme faham Marx pada
hakikatnya bisa di pandang sebagai konservatif. (kenyataannya, apakah sesuatu
bisa dilakukan atau tidak untuk mempercepat kapitalis, dan sosialis,
perkembangannya merupakan masalah utama yang membagi Marxis dalam kubu-kubu
yang saling bermusuhan satu dengan yang lain).[2] Kebanyakan kaum Marxis modern memakai pendapat epistemologi
realis kritis yang berbeda dari yang ditemukan dalam Marxisme klasik, dan jelas
di pengaruhi oleh kritik kaum interpretis.
B.
Keterkaitan Negara dan Kelas
Menurut Marx masyarakat bukan terdiri atas individu-individu
melainkan terdiri atas kelas-kelas. Yang dimaksud dengan kelas ialah kelompok
orang yang memiliki pola hubungan yang sama terhadap sarana produksi. Karena
mereka memiliki pola hubungan yang sama terhadap sarana produksi, mereka
mengembangkan pandangan yang khas terhadap diri mereka dan dunia sekitar.[3] Secara
sederhana, kelas sosial adalah golongan dalam masyarakat dengan kriteria
tertentu bisa berdasarkan faktor ekonomi
faktor pendidikan dan sebagainya. Menurut Marx sendiri kelas sosial
merupakan gejala khas yang feodal dimana mereka menyadari diri sebagai kelas,
suatu golongan khusus dalam kehidupan bermasyarakat dan memiliki
kepentingan-kepentingan yang spesifik serta mau memperjuangkan kepentingannya
sehingga dapat mencapai tujuan yang di inginkan. Marx membagi `kelas sosial
menjadi dua bagian yaitu kelas ploletar dan kelas borjuis.
Menurut Marx semua sistem ekonomi dan politik telah dikuasai oleh
kelas atas para penguasa negara. Marx menyimpulkan bahwa negara hanyalah
kepanjangan tangan dari kelas atas untuk mengamankan status kekuasaan mereka.
Prespektif ini dapat menjelaskan mengapa biasanya yang menjadi korban adalah
rakyat kecil, pencuri kecil dihukum lebih berat dari koruptor dan terkesan kelas
atas sangat kebal dengan hukum yang berlaku.
Dengan semakin kuatnya belenggu penindasan terhadap kelas proletar,
Marx dalam bukunya yang berjudul Proverty
of Philosophy, menegaskan bahwa skenario eksploitasi kelas telah melahirkan
unsur antagonisme kelas yang merangsang keinginan para kaum proletar untuk
bebas dari belenggu penindasan. Keinginan utama mereka ini menjadi penggerak
untuk membentuk sistem sosial yang baru
tanpa adanya eksploitasi kekuasaan dari kelas borjuis.[4]
Pertarungan kaum kapitalis melawan kau proletar merupakan
pertentangan kelas yang terakhir dan dengan demikian akan berakhirlah gerak
dialektis. Masyarakat komunis yang dicita-citakan Marx merupakan masyarakat
yang dimana tidak ada kelas sosial tidak ada perbedaan antara borjuis dan
proletar, tidak ada eksploitasi penindasan serta penindasan dan semuanya
merasakan kesejahteraan yang sama. Akan tetapi, merupakan hal yang aneh bahwa
untuk mencapai masyarakat yang bebas demikian yaitu dengan perebutan kekuasaan
oleh kaum dengan sendirinya dengan
munculnya masyarakat komunis. Kata Marx dan Engels : “ Negara tidak lain
tidak bukan hanyalah mesin yang dipakai oleh suatu kelas untuk menindas kelas
lain “. Dan dikatakan selanjutnya bahwa Negara hanyalah suatu lembaga
transisi yang dipakai dalam perjuangan untuk menindas lawan-lawan dan
kekerasan. Negara akan lenyap pada saat komunisme tercapai karena tidak ada
lagi yang ditindas.[5]
C.
Model Ideal dan Real Negara Marxis
Di dalam teori kapitalisme menganggap negara digerakkan oleh
kepentingan kelas yang berkuasa yakni kaum borjuis yang menguasai perekonomian
dalam suatu negara. Sedangkan model negara ideal yang diharapkan oleh Karl Marx
adalah negara yang bebas dari kelas feodal maupun borjuis. Marx mengharapkan
didalam suatu negara itu tidak ada ketimpangan antar kaum yakni antara kaum
borjuis yang menindas kaum proletar. Oleh
karenanya, ideologi ini lebih cenderung ke arah perbaikan ekonomi. Dalam
pandangan Marx, kaum proletar akan bangkit sendiri. Hal ini dapat terjadi
dikarenakan rasa tidak puas kaum proletar terhadap diskriminasi ekonomi yang
akhirnya melahirkan pemberontakan. Para kaum proletar bersatu untuk mengambil
hak mereka yang dikuasai oleh kaum borjuis. Dengan bersatunya kaum proletar
maka hancurlah kekuasaan dan kesewenang-wenangan kaum borjuis. Sehingga dalam
pandangannya, Marx menyatakan bahwa kapitalisme pada puncak perkembangannya
akan hilang dan digantikan oleh komunisme.
Ide marx dimulai dari materialism sejarah, yang beragumentasi
bahwa perubahan sejarah merupakan cerminan atas pembangunan ekonomi dalam
masyarakat. Dengan demikian pembangunan ekonomi adalah penggerak utama sebuah
sejarah. Yang disebut dengan the mean of production and the relation of
production. the mean of production yaitu sumber dan teknologi yang berasal
dari masyarakat. Pemilik dari alat produksi akan menikmati keuntungan ekonomi
dan akan menjadi kelas yang berkuasa (kaum capital).[6] Superstruktur yang mendukung keberadaan kelas penguasa (ruling
class), yakni nilai-nilai ideology, pemerintahan, pendidikan, kultur, agama,
kesenian, dan lain sebagainya. Fungsi utama dari superstruktur tersebut adalah
agar penguasa dapat terus berkuasa. Dengan demikian, pandangan mengenai
negara bagi marx ada dua yakni badan
yang otonom, yaitu badan yang mewadahi konflik antar kelas, dan badan yang
tidak otonom, yakni alat dari kaum capital untuk merepresi kaum proletar (tanpa
alat produksi). Satu cara mengubah struktur dalam masyarakat adalah
menyingkirkan kaum kapitalis.
Komunitas politik yang dicita-citakan
oleh Marx adalah komunitas yang didalamnya muncul demokrasi yang sejati dan
tidak lagi didapati yang namanya negara ataupun kelas.[7]
D.
Modifikasi Teori Negara Marxis (Neo-Marxis)
Pada
pertengahan abad 1840-an,Marx berkeyakinan bahwa ekspansi kapitalisme telah
menghapus pemisahan klasik antar Negara-bangsa yang berdaulat dan mengganti
sistem Negara internasional dengan masyarakat kapitalis global yang disitu
konflik utamanya terpusat pada dua kelas sosial yang saling berseberangan. Marx
meyakini kesimpulan bahwa revolusi politik akan menggulingkan tatanan kapitalis
dan menciptakan sebuah masyarakat sosialis di mana prinsip-prinsip kebebasan
dan kesetaraan,yang selalu diserukan oleh ideologi kapitalis namun justru
terhambat oleh struktur kapitalistik, akan terwujud untuk meningkatkan derajat
kehidupan masyarakat.
Asumsi neo-marxisme mengenai mausia pada
dasarnya adalah sama dengan asumsi dasar dari Marxisme. Namun ada beberapa
penambahan yang menurut Jill Steans & Lloyd Pettiford adalah ”karakteristik
manusia tidaklah bersifat tetap dan esensial”. Perhatian utama manusia adalah
sosial dan sejarah. Pendekatan neo-Marxis juga berpendapat bahwa kapitalisme membawa
seluruh masyarakat ke dalam sebuah sejarah global tunggal, bukan membantu
perkembangan revolusi nasionalis melawan eksploitasi dan ketidakadilan ekonomi.
Karakteristik manusia dikondisikan
oleh berbagai bentuk dari organisasi sosial, ekonomi, dan politik yang ada.
Tetapi yang diasumsikan oleh neo-marxisme adalah sistem internasional yang
terpilah berdasarkan kelas. Yaitu kelas kapitalis-eksploiter (dalam marxisme
adalah borjuis) dan kelas negara dunia ketiga atau negara periphery
(dalam marxisme adalah proletar) yang menjadi obyek eksploitasi karena memiliki
sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh negara bermodal (kapital).
Neo-marxisme juga terkenal dengan teori dependensi atau ketergantungan,
neo-marxisme mengkritik bentuk ketergantungan yang tampak dalam pembangunan
kapitalis yang terjadi di dunia ketiga. Para borjuis di negara-negara kaya bisa
mengeksploitasi negara miskin dengan mendorong negara dunia ketiga untuk
mengembangkan perusahaan terbuka dan terlibat dalam perdagangan bebas, sehingga
negara kaya bisa mengeksploitasi baik kekayaan alam maupun tenaga kerjanya.
Neo-Marxisme lebih mendukung dependensi
sosialis yang lebih desentralis dan demokratis dalam sistem internasional.
Dengan demikian negara masih merupakan aktor yang sangat penting untuk
memastikan kesejahteraan rakyatnya, selain itu neo-marxisme juga percaya, bahwa
negara Dunia Ketiga telah matang untuk melakukan revolusi sosialis. Tujuan dari
Neo-marxis adalah mengupayakan pertumbuhan, pemerataan dan juga otonomi
nasional. Peran negara dalam perspektif neo-marxis ini bersifat primer, dan
usaha ditujukan untuk menghadapi kapitalis dunia. Hambatan yang dihadapi dalam
pencapaian tujuan ialah hambatan struktural dimana kapitalisme internasional
dituduh sebagai penyebab kemerosotan Dunia Ketiga.
Untuk mencapai stabilitas menurut
Neo-marxisme adalah dengan mengadakan suatu revolusi menentang sistem kapitalis
internasional. Kelemahan dari teori neo-marxis itu sendiri adalah terjadi
ketergantugan antara negara yang kuat (leading sector) dengan negara yang
miskin (legging sectors) dimana pendapat ini cenderung untuk berfokus pada
masalah pusat dan modal internasional sebagai penyebab kemiskinan dan keterbelakangan,
daripada masalah pembentukan kelas-kelas lokal.
E.
Dependency, Independency dan Interdependency Theory
Teori Dependency adalah tubuh
ilmu sosial teori didasarkan
pada gagasan bahwa sumber daya mengalir dari "pinggiran" negara
miskin dan terbelakang ke "inti" dari negara-negara kaya, memperkaya
yang terakhir dengan mengorbankan mantan. Ini adalah
pertentangan utama teori ketergantungan yang menyatakan miskin yang miskin dan
kaya diperkaya dengan cara negara-negara miskin terintegrasi ke dalam sistem
dunia.
Teori ini muncul
sebagai reaksi terhadap teori
modernisasi, lebih awal teori pembangunan yang menyatakan bahwa semua masyarakat maju melalui tahap-tahap
pembangunan, daerah tertinggal yang saat ini justru berada dalam situasi yang
mirip dengan area yang dikembangkan saat ini pada beberapa waktu di masa lalu,
dan oleh karena itu tugas dalam membantu daerah tertinggal keluar dari
kemiskinan adalah untuk mempercepat mereka di sepanjang jalur umum ini
seharusnya pembangunan, dengan berbagai cara seperti investasi, transfer
teknologi, dan lebih dekat integrasi ke pasar dunia. Teori
ketergantungan menolak pandangan ini, dengan alasan bahwa negara-negara
terbelakang tidak hanya versi primitif negara maju, tetapi memiliki fitur yang
unik dan struktur mereka sendiri, dan
yang penting, berada dalam situasi yang menjadi anggota yang lebih lemah dalam
ekonomi pasar dunia.
Teori independency dapat berarti bebas, merdeka, atau
berdiri sendiri. Independen merupakan lembaga sosial dan wahana komunikasi yang
kegiatannya tidak terpengaruh/ter-intervensi oleh pihak manapun yang tetap
memengang amanat konstitusi dan semangat pancasila. Independen
mempunyai perertanggungjawaban dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang
benar dan obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang
konstruktif.
Teori Interdependensi merupakan bagian dari skala yang
lebih besar dari teori pertukaran sosial. Teori pertukaran sosial melihat
bagaimana orang-orang bertukar biaya dalam suatu hubungan. Teori Interdependensi
mengambil langkah lain lebih lanjut dan menunjukkan bagaimana penghargaan ini
dan biaya berkolaborasi dengan harapan masyarakat 'hubungan interpersonal.
Teori ini berasal dari ide bahwa kedekatan adalah kunci untuk semua hubungan,
orang berkomunikasi menjadi lebih dekat satu sama lain. Teori ini menyatakan
bahwa ada imbalan dan biaya untuk hubungan apapun dan bahwa orang mencoba untuk
memaksimalkan manfaat dan meminimalkan biaya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Gagasan marxisme lahir dari seorang filosof ternama
yakni Karl Marx yang isinya menentang adanya akpitalisme dalam negara.
Menentang adanya kesewenang-wenangan antara kelas borjuis dengan kelas
proletar. Konsep awal yang paling mendasar menurut karl marx adalah segala
perubahan yang terjadi dalam sosial masyarakat disebabkan oleh struktur ekonomi
pada sosial masyarakat tersebut. Sebuah ekonomi yang unggul dalam masyarakat
akan membentuk dan mewarnai seluruh sosial masyarakat. Menurut Marx masyarakat bukan terdiri atas individu-individu
melainkan terdiri atas kelas-kelas. Yang dimaksud dengan kelas ialah kelompok
orang yang memiliki pola hubungan yang sama terhadap sarana produksi.
Menurut Marx semua sistem ekonomi dan politik
telah dikuasai oleh kelas atas para penguasa negara. Marx menyimpulkan bahwa
negara hanyalah kepanjangan tangan dari kelas atas untuk mengamankan status
kekuasaan mereka. Satu cara mengubah
struktur dalam masyarakat adalah menyingkirkan kaum kapitalis. Komunitas politik atau negara yang dicita-citakan
oleh Marx adalah komunitas yang didalamnya muncul demokrasi yang sejati dan
tidak lagi didapati yang namanya negara ataupun kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Ismail, Indriati dan Moh. Zuhaili. Karl Marx dan konsep perjuangan kelas. Internasional
journal islamic thought
Mills, C. Wright.
2003. Kaum Marxis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Rachmawati, Iva. 2012. Memahami
Perkembangan Hubungan HI. Yogyakarta: Aswaja Pressindo
Rodee,
dkk. 1995. Pengantar Ilmu Politik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Surbakti,
Ramlan. 2010. Memahami Ilmu Politik. Jakarta:
Grasindo
[1] C.
Wright Mills, Kaum Marxis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hal. 23.
[3] Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: Grasindo, 2010), hal. 38-39.
[4] Indriati ismail dan Moh. Zuhaili, Karl Marx dan konsep perjuangan kelas(internasional
journal islamic thought),hal. 29-30.
[5] Ibid.,
153
[6] Iva
Rachmawati, Memahami Perkembangan Hubungan HI, ( Yogyakarta: Aswaja
Pressindo), 2012,hal. 117.
[7] C.
Wright Mills, Kaum Marxis,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2003, hal. 18.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar