Kamis, 11 Desember 2014

BUDAYA POLITIK MASYARAKAT MENANGGAPI PEMILU




            Pesta demokrasi masyarakat Indonesia untuk memilih wakil rakyat telah berlangsung. Masyarakat menyambutnya dengan banyak ekspresi yang merefleksikan sikap maupun pandangan mereka terhadap pesta demokrasi ini. Tidak jarang mereka terkesan menunjukkan ekspresi yang biasa saja (flat), hal ini dikarenakan banyaknya janji janji caleg yang tidak terealisasikan saat mereka telah menjadi anggota dewan. Saya sempat mendengar celetukan dari salah satu akademisi di kampus yang mengatakan “ untuk apa ada pemilu jika rakyat sendiri tidak mengenal siapa yang akan menjadi wakil mereka, bahkan ironisnya tidak mengerti bagaimana keseharian mereka dan asal usul yang jelas dari para caleg tersebut. Mengapa wakil rakyat ini tidak dipilih oleh orang-orang yang seharusnya mengerti saja ?”. asumsi demikian menggambarkan kurangnya sosialisasi politik yang terjadi di Indonesia. Para caleg hanya menggembar-gemborkan janji palsu mereka kepada masyarakat yang berharap kesejahteraan bisa terwujud namun tidak jarang mereka menodai sendiri janji tersebut. Hal ini memicu masyarakat enggan menjasi partisipan yang baik dalam pemilu, bahkan mereka memilih untuk tidak mengeluarkan hak suara mereka (golput).
            Fenomena money politic juga masih sangat ramai diperbincangkan dalam pemilu tahun ini. Bahkan mungkin semakin membabi buta tanpa terkendali dalam masyarakat. Apalagi pada kalangan masyarakat pedesaan yang masih belum memahami atau kurang paham akan pendidikan politik dan bagaimana menjadi seorang pemilih yang bersih dan cerdas tanpa dinodai dengan iming-iming uang. Masyarakat pedesaan cenderung mudah di pengaruhi dan yang sangat ironis adalah ketika hak suara mereka dapat dibeli dengan harga yang sangat rendah bekisar 20ribu hingga 50ribu saja tanpa berfikir panjang bagaimana ke depannya nasib mereka jika berada pada wakil rakyat yang salah. Bahkan saya juga menemui masyarakat pedesaan yang menunggu momen-momen pesta demokrasi atau pemilu legislatif sebagai sarana untuk mengumpulkan uang yang dibagikan oleh para caleg yang ingin dipilih dan menang saat pemilu. Masyarakat pedesaan sering menyebut kegiatan suap atau money politik ini sebagai istilah “bom-bom’an” yang berasal dari bahasa jawa. Di kalangan masyarakat desa bom-bom’an ini tidak hanya muncul atau ada pada saat pesta demokrasi atau pemilu legislatif saja, namun hal tersebut juga terjadi saat proses pemilihan kepala desa. Hal yang demikian ini sudah amat sering sekali terjadi dan melekat pada adat istiadat masyarakat desa. 
            Masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan setidaknya lebih menjadi pemilih yang cerdas, dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Mungkin dikarekan tingkat pendidikan politik di kota lebih tinggi daripada di pedesaan, serta pemahaman masyarakat tentang politik di kota juga lebih matang. Para akademisi dan intelektual intelektual juga banyak yang tinggal di wilayah perkotaan. Selain itu, sosialisasi-sosialisasi poltik sering terjadi di wilayah perkotaan bukan wilayah pedesaan yang masih terisolir. Antusiasme dan kesadaran akan pentingnya pentingnya pemilihan umum masyarakat perkotaan juga lebih tinggi karena  mungkin masyarakat sangat ingin memiliki seorang wakil rakyat yang benar-benar mumpuni dalam hal menjalankan tugasnya, bukan hanya janji-janji diawal kampanye saja.
            Dalam pandangan islam pemilu adalah sesuatu yang dianggap sebagai cara ikhtiyar untuk memperoleh wakil rakyat sesuai dengan hati nurani kita. lain halnya dengan kelompok HTI  yang beberapa saat lalu saya temui di kampus, mereka memilih sebagai golongan putih di pemilu (golput). Setelah saya telisik lebih dalam alasan mereka memilih sebagai golongan putih dalam pemilu karena menurut mereka visi misi para calon legislatif tidak ada yang benar-benar menjunjung syariat islam. Seperti kita ketahui sendiri HTI adalah kelompok yang sangat-sangat menjunjung tinggi syariat dan ketentuan dalam islam. Mereka mengatakan bahwa belum ada pemimpin yang benar-benar amanah dalam menjalankan tugasnya. Tidak jarang pula mereka menghianati sendiri apa yang mereka janjikan. Jadi untuk apa memilih seorang pemimpin yang di dalamnya tidak tertanam akhlak yang baik.
            Di pulau Madura, ada sebuah realitas politik yang menarik serta mencengangkan untuk dibahas. Bermula dari cerita teman saya sebagai relawan pengawas pemilu di daerahnya yang mengatakan bahwa sebelum masyarakat pergi ke TPS mereka dihadang oleh sekawanan preman dengan wajah garang tak lupa membawa senjata tajam. Preman tersebut mengancam semua masyarakat yang hendak pergi ke TPS untuk mengeluarkan hak suaranya untuk memilih
            Kendala yang dialami masyarakat saat pelaksaan pemilu juga tidak sedikit. Banyak hal terjadi dari hal sangat dianggap remeh maupun serius, yang akhirnya membuat pelaksaan pemilu menjadi tidak berjalan dengan lancar. Seperti tertukarnya surat suara di kabupaten mojokerto dengan kabupaten jombang. Lalu, ada pula keterlambatan surat suara di TPS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar